Minggu, 07 Juni 2026

Sandekala



Abdul Rahman Saleh

Sandekala, dalam kepercayaan masyarakat Sunda, adalah waktu yang tidak pernah benar-benar sunyi. Ia datang di peralihan sore menuju malam—ketika cahaya meredup, ketika bayangan memanjang, dan ketika dunia yang kasat mata perlahan berbagi ruang dengan yang tak terlihat.

Sejak kecil, aku sering diingatkan: jangan keluar rumah saat magrib.
Dulu aku menganggapnya sekadar larangan orang tua.

Sampai peristiwa itu terjadi pada anakku sendiri.

Ani, anak keduaku, kini sudah berkeluarga. Ia tinggal tidak jauh dari rumahku, bersama suaminya—yang dipanggil anak-anaknya dengan sebutan Abi—dan tiga orang anak. Yang sulung, seorang anak perempuan berusia lima tahun yang biasa dipanggil Kakak. Dua lainnya adalah anak kembar laki-laki yang belum genap dua tahun: Abang dan Ade.

Kejadian itu berlangsung pada suatu sore yang tampak biasa.

Menjelang pukul setengah enam, Ani kehabisan obat nyamuk. Nyamuk memang sedang banyak-banyaknya. Ia memutuskan pergi ke warung yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari rumah. Ia membawa Abang, sementara Kakak dan Ade ditinggal di rumah.

Langit saat itu sudah mulai temaram.

Ani bilang, sebenarnya ia ragu. Tapi ia pikir, waktu magrib masih sedikit lagi.

Sepulang dari warung, ia setengah berlari. Ia tidak enak meninggalkan dua anaknya sendirian. Tapi tepat ketika hendak membuka pagar, tetangganya, Tante Lutfi, menyapa.

“Dari mana, Bun?”

“Dari warung, Tante,” jawab Ani, sambil tersenyum tipis.

Tante Lutfi, seperti biasa, ramah dan suka mengobrol. Ani serba salah. Masuk begitu saja terasa tidak sopan. Tapi tetap berdiri di luar… hatinya mulai tidak tenang.

Waktu seperti menahan napas.

Dan saat itulah Abang tiba-tiba menangis.

Bukan sekadar rewel. Tangisnya keras. Melengking. Seperti ketakutan.

Ani langsung pamit dan masuk ke rumah. Tapi tangisan itu tidak berhenti. Ia mencoba menyusui—ditolak. Digendong—malah meronta. Dibujuk—tidak mempan.

Tangisan itu… tidak biasa.

Ani baru sadar—ia membawa anaknya keluar menjelang magrib.

Dengan panik, ia mulai membaca surat-surat pendek. Lalu ayat kursi, terbata-bata. Nafasnya tidak teratur. Tangannya dingin.

Setelah beberapa saat, Abang akhirnya tertidur.

Rumah menjadi sunyi.

Terlalu sunyi.

***

Malamnya, sekitar pukul sepuluh, suami Ani pulang.

Baru saja ia meletakkan tas, tangisan itu kembali pecah.

Lebih keras.

Lebih tajam.

“Kenapa, Bun?” tanya suaminya.

Ani menjelaskan kejadian sore tadi. Suaminya hanya menggeleng pelan.

“Bunda tahu, kan… jangan keluar waktu magrib.”

Ani tidak menjawab.

Ia memperhatikan anaknya.

Dan saat itulah sesuatu terasa janggal.

Tangisan Abang keras… tapi tidak ada air mata. Wajahnya pucat kebiruan. Matanya seperti menatap sesuatu yang tidak terlihat.

Bulu kuduk Ani berdiri.

“Aku telepon Bu Teteh,” katanya pelan.

***

Bu Teteh adalah orang yang biasa membantu jika ada gangguan yang tidak kasat mata. Kebetulan ia juga sering membantu mengurus anak-anak Ani.

Tapi malam itu, ia sedang tidak di rumah.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Bu Teteh datang.

Dan sejak pertama kali melihatnya, Ani tahu—ada yang berbeda.

Wajahnya… seperti bukan wajah yang sama. Sorot matanya tajam. Suaranya berat, lebih dalam dari biasanya.

“Berdiri di situ. Jangan bergerak.”

Ani membeku di dekat pintu.

Di luar, beberapa tetangga mulai berkumpul. Tangisan Abang terdengar hingga ke jalan.

Bu Teteh mendekat. Tapi bukan ke anak itu.

Melainkan… ke Ani.

“Keluar.”

Suasana mendadak dingin.

“Aku tahu kamu ada di situ.”

Ani ingin bergerak. Tapi tubuhnya seperti ditahan.

Lalu, tanpa ia sadari, bibirnya bergerak.

Suara yang keluar… bukan suaranya.

“Aku hanya ingin bermain…”

Ani merasakan tengkuknya dingin. Napasnya berat.

“Keluar dari tubuhnya,” suara Bu Teteh tegas. “Itu bukan tempatmu.”

“Biarkan aku… sebentar saja…”

“Tidak.”

Hening beberapa detik.

Lalu tubuh Ani bergetar.

“Aku keluar… tapi jangan sakiti aku…”

Dan seketika itu juga, Ani limbung.

Udara terasa kembali normal.

Tangisan Abang berhenti.

***

Aku mendengar semua itu langsung dari Ani keesokan harinya.

Ia bercerita dengan wajah pucat. Tangannya masih gemetar saat mengingatnya.

Bu Awah, tetangganya, sempat mengatakan sesuatu yang membuatku makin sulit tidur malam itu.

“Di rumah kosong sebelah itu… ada tiga,” katanya pelan.
“Nenek-nenek… yang kecil… sama yang besar, hitam…”

Aku tidak tahu mana yang benar.

Tapi satu hal yang pasti—Ani sempat merasa telinganya berdenging saat berdiri di luar menjelang magrib itu.

Sejak hari itu, Bu Teteh selalu memastikan Ani sudah berada di dalam rumah sebelum azan magrib selesai.

Tidak pernah sekalipun ia membahas kejadian itu lagi.

Seolah-olah…

Tidak semua hal memang perlu dijelaskan.

***

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi menganggap remeh Sandekala.

Karena ternyata, larangan itu bukan sekadar mitos.

Melainkan… peringatan.

Bahwa ada waktu-waktu tertentu di mana dunia ini bukan hanya milik kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gelombang Kejahatan

Fielden Hughes - Disadur oleh:  Abdul Rahman Saleh “Masuk!” Kepala sekolah menjawab ketukan kecil di pintu ruang kerjanya. Pintu terbuka...