Audrey Wilson
Disadur oleh: Abdul R Saleh
BAB 1 — Kedatangan
Bus itu berhenti dengan derit pelan di tepi jalan
desa.
“Terakhir!” seru sopir dari depan.
Paula berdiri, meraih tasnya, lalu turun. Begitu
kakinya menyentuh tanah, ia langsung merasakan perbedaan udara—lebih hangat,
lebih bersih, dan entah kenapa… lebih sunyi.
Bus kembali melaju, meninggalkannya sendiri di pinggir
jalan.
Paula menarik napas panjang.
“Akhirnya.”
Ia menatap jalan setapak di depannya—jalan yang sama
seperti tahun lalu. Ia masih mengingatnya dengan cukup jelas: melewati
rumah-rumah baru, lalu rumah dokter, dan setelah itu hanya ladang luas sampai
ke persimpangan dengan kotak telepon.
Dan di ujung perjalanan itu—
pondok neneknya.
Langkah Paula terasa ringan. Ia hampir bisa mencium
aroma masakan neneknya hanya dengan membayangkannya.
Namun semakin jauh ia berjalan, suasana mulai berubah.
Rumah-rumah berkurang.
Suara kendaraan menghilang.
Yang tersisa hanya angin dan suara langkahnya sendiri.
Saat ia melewati rumah dokter, ia sempat melirik ke
arah jendela. Tirainya tertutup, tapi ia merasa seperti ada yang
memperhatikannya.
Paula menggeleng pelan. “Perasaan saja.”
Ia melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian, pondok itu akhirnya terlihat.
Kecil. Sepi. Dikelilingi taman yang penuh bunga.
Dan di depan pintunya—
neneknya berdiri.
“Paula!”
Suara itu langsung membuat dada Paula terasa hangat.
“Nenek!”
Ia melambaikan tangan, lalu mempercepat langkah.
Neneknya membalas dengan semangat berlebihan—bahkan
berjinjit kecil seperti anak-anak. Paula tidak bisa menahan tawa.
“Masih saja seperti ini,” gumamnya.
Namun saat ia semakin dekat, langkahnya melambat.
Ada sesuatu yang tidak biasa.
Di belakang neneknya, di dalam rumah, ada bayangan
yang bergerak.
Cepat.
Hilang.
Paula mengerutkan kening.
“Nek… ada orang lain di rumah?” tanyanya saat akhirnya
sampai.
“Oh!” Nenek tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum.
“Masuk saja dulu.”
Nada suaranya ringan.
Tapi Paula menangkap sesuatu di baliknya.
***
Di dalam rumah, udara terasa sejuk. Namun suasananya
tidak sehangat biasanya.
Seorang wanita berdiri di dekat meja.
Ia tidak menyapa.
Hanya menatap.
“Ini Nyonya Parfitt,” kata Nenek.
Paula mengangguk sopan. “Senang bertemu dengan Anda.”
Wanita itu tidak langsung menjawab.
Ia memandang Paula cukup lama—terlalu lama untuk
sekadar sopan santun.
“Jadi kamu cucunya,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Sudah lama tidak datang.”
“Setahun.”
“Lama sekali.”
Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang membuat
Paula tidak nyaman.
Seolah-olah itu bukan sekadar pengamatan.
Melainkan… penilaian.
Nenek segera mengalihkan suasana. “Ayo duduk! Kita
minum dulu.”
Namun sepanjang sore itu, Paula merasa seperti tidak
pernah benar-benar sendirian.
Setiap kali ia menoleh—
mata itu ada di sana.
Mengamatinya.
***
Malamnya, sebelum tidur, Paula berdiri di depan
jendela kamarnya.
Taman terlihat tenang di bawah cahaya bulan.
Namun entah kenapa, ia tidak merasa tenang.
Ia teringat cara Nyonya Parfitt memandangnya.
Cara ia bertanya.
Cara ia tersenyum—tanpa benar-benar tersenyum.
Paula memeluk dirinya sendiri.
“Mungkin aku cuma terlalu capek,” gumamnya.
Namun jauh di dalam hati—
ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
BAB 2 — Taman yang Tidak Biasa
Pagi datang lebih lambat dari yang direncanakan Paula.
Saat ia bangun, matahari sudah tinggi. Ia mengerjap
beberapa kali, merasa tubuhnya berat.
“Aneh…”
Ia biasanya bangun lebih pagi dari ini.
Saat turun ke dapur, ia menemukan Nenek sedang
memasak, sementara Nyonya Parfitt duduk di meja, meminum teh.
“Kamu akhirnya bangun,” kata wanita itu.
Nada suaranya ringan.
Tapi tatapannya tetap sama.
Paula memaksakan senyum. “Iya… mungkin kecapekan.”
“Atau mungkin kamu tidak terbiasa dengan tempat ini
lagi,” sahutnya.
Paula tidak menjawab.
***
Siang harinya, setelah makan, rasa tidak nyaman itu
datang.
Awalnya ringan.
Lalu semakin kuat.
Paula duduk di kursi taman, memegangi perutnya.
“Nek…” suaranya melemah.
Nenek langsung panik. “Kamu kenapa?”
“Perutku… sakit…”
“Kamu makan terlalu banyak tadi,” kata Nenek, meski
wajahnya mulai cemas.
Dari balik jendela, Nyonya Parfitt mengamati.
Tanpa berkata apa-apa.
***
Malamnya, Paula terbangun.
Kali ini bukan karena suara.
Tapi karena perasaan.
Ia berjalan ke jendela dan membukanya.
Udara malam menyentuh wajahnya.
Lalu ia melihat—
Nyonya Parfitt di kebun.
Wanita itu bergerak perlahan di antara tanaman.
Memetik.
Menyentuh.
Berhenti di setiap titik.
Seolah sedang… merawat sesuatu yang sangat berharga.
Paula menyipitkan mata.
Bunga Bidal.
Di Inggris disebut Foxglove.
Ia langsung mengenalinya. Dan ia ingat kata-kata
gurunya.
“Beracun…” bisiknya. “Walau bunganya indah…”
Namun yang membuatnya benar-benar takut—
bukan tanaman itu.
Melainkan cara wanita itu memperlakukannya.
Dengan lembut.
Dengan sayang.
Seolah racun itu… indah.
BAB 3 — Kebenaran yang Terlambat
Paula tidak bisa kembali tidur.
Pikirannya bekerja cepat.
Tanaman beracun.
Makanan.
Rasa sakit.
Ia turun dari tempat tidur dan mengambil sisa roti.
Tangannya gemetar saat membelahnya.
“Ayolah…” gumamnya.
Ia menatap bijinya.
Bukan biji biasa.
Dan saat itu—
semuanya terasa jelas.
“Oh, tidak…”
Ia berlari keluar kamar.
“Nenek!”
***
Apa yang ia temukan di kamar itu—
menghentikan napasnya.
Nenek terbaring.
Tidak bergerak.
“Bangun, Nek! Tolong!”
Ia mengguncang tubuh itu.
Tidak ada respons.
Hanya napas lemah.
Dan busa putih di sudut bibir.
Air mata Paula jatuh.
“Tidak… tidak… tidak…”
Lalu—
tawa.
Keras.
Dekat.
Paula perlahan menoleh ke arah dinding.
Dan untuk pertama kalinya—
ia benar-benar merasa takut.
BAB 4 — Terjebak
Tawa itu masih menggema.
Dari balik dinding.
Dekat.
Terlalu dekat.
Paula berdiri kaku di samping tempat tidur neneknya.
Napasnya pendek-pendek, dadanya terasa sesak.
Dia tahu…
Pikiran itu datang begitu saja.
Dia tahu aku sudah tahu.
Paula mundur perlahan, langkahnya nyaris tak bersuara.
Ia menatap pintu kamar, lalu kembali ke neneknya.
Ia tidak bisa meninggalkannya.
Tapi ia juga tidak bisa tetap di sini.
Tawa itu berhenti.
Sunyi.
Justru itu yang lebih menakutkan.
Paula menelan ludah. Dengan cepat, ia meraih jaketnya
dan berlari keluar kamar.
Menuruni tangga.
Satu langkah.
Dua langkah—
Lalu—
Krek.
Suara lantai kayu.
Paula membeku.
Dari dapur, terdengar suara sesuatu diletakkan pelan
di atas meja.
Dia ada di sana.
Paula menahan napas, lalu berbalik arah—menuju pintu
depan.
Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu.
Pelan.
Sangat pelan.
Ia membukanya—
Dan udara malam langsung menyambutnya.
Dingin.
Bebas.
Paula melangkah keluar.
Satu langkah lagi—
“Mau ke mana kamu, Paula?”
Suara itu tepat di depannya.
Paula tersentak mundur.
Di bawah cahaya bulan, Nyonya Parfitt berdiri di jalan
setapak.
Diam.
Menunggu.
Seolah ia sudah tahu Paula akan keluar dari sana.
“Kamu terlihat pucat,” lanjutnya pelan. “Tidak enak
badan?”
Paula tidak menjawab.
Ia tidak bisa.
“Kamu seharusnya istirahat,” kata wanita itu sambil
melangkah mendekat. “Aku sudah membuatkan sesuatu untukmu.”
“Aku harus pergi,” kata Paula akhirnya, suaranya
hampir pecah.
“Pergi?” ulang Nyonya Parfitt. “Meninggalkan nenekmu?”
Kalimat itu menghantam.
Paula ragu.
Hanya sepersekian detik—
cukup bagi wanita itu untuk melangkah lebih dekat.
“Dia butuh kita,” bisiknya.
Kita.
Kata itu terasa salah.
Sangat salah.
Paula mundur lagi.
“Aku akan kembali,” katanya cepat. “Aku hanya—”
“Kamu tidak perlu pergi,” potongnya.
Nada suaranya berubah.
Lebih tegas.
Lebih dingin.
Paula menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya—
ia melihat sesuatu yang benar-benar menakutkan di mata
itu.
Bukan kemarahan.
Bukan kebencian.
Tapi keyakinan.
Wanita itu benar-benar percaya pada apa yang ia
lakukan.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Dalam satu gerakan cepat, Paula berbalik—
dan berlari.
BAB 5 — Pelarian
Langkah Paula menghantam tanah dengan keras.
Ia tidak peduli.
Ia tidak berani menoleh.
Hanya berlari.
Udara malam terasa tajam di paru-parunya. Setiap
tarikan napas seperti membakar.
Namun ia tidak berhenti.
Tidak boleh.
Di belakangnya—
ia tidak mendengar langkah.
Tidak ada suara kejaran.
Dan justru itu yang membuatnya semakin takut.
Kenapa dia tidak mengejar?
Paula hampir tersandung batu, tapi berhasil menjaga
keseimbangan.
Kotak telepon.
Ia harus sampai ke sana.
Tangannya sudah terulur—
hampir menyentuh pintu—
“Paula!”
Suara itu terdengar dari kejauhan.
Dekat… tapi tidak cukup dekat.
Paula membeku sesaat.
Ia bisa masuk sekarang.
Mengunci diri.
Menelepon bantuan.
Selesai.
Tapi—
rumah dokter.
Lebih dekat dari situ.
Dan dokter bisa langsung datang.
Keputusan itu terjadi dalam sekejap.
Paula berbalik arah.
Dan berlari lagi.
Kali ini lebih cepat.
Lebih nekat.
Langkahnya goyah. Pandangannya mulai kabur. Perutnya
kembali terasa mual.
Jangan sekarang…
Ia memaksa dirinya terus bergerak.
Lampu rumah dokter terlihat.
Hanya sedikit lagi.
Sedikit lagi—
Paula hampir jatuh saat menaiki tangga teras. Ia
mengetuk pintu dengan sisa tenaga.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali—
Pintu terbuka.
Seorang pria berdiri di sana, tampak terkejut.
“Ya ampun—apa yang terjadi?”
“Tol—tolong…” suara Paula nyaris tak terdengar. “Nenek
saya… diracun…”
Pria itu mengernyit. “Apa?”
“Wanita itu… tanaman… roti… dia akan mati kalau kita
tidak cepat!”
Dokter menatapnya beberapa detik.
Menilai.
Ragu.
Lalu melihat sesuatu di wajah Paula—
ketakutan yang tidak dibuat-buat.
Ia langsung meraih kunci mobil.
“Masuk.”
BAB 6 — Konfrontasi
Mobil melaju cepat menembus jalan gelap.
Paula duduk diam, tangannya mencengkeram erat kursi.
“Ceritakan lagi,” kata dokter sambil tetap fokus ke
jalan.
Paula menjelaskan secepat yang ia bisa.
Tentang tanaman.
Tentang roti.
Tentang neneknya.
Dan tentang tawa itu.
Dokter tidak langsung menjawab.
Namun kali ini, ia tidak meremehkannya.
Saat mereka tiba, rumah itu gelap.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada suara.
“Diam di belakang saya,” kata dokter tegas.
Paula mengangguk.
Mereka masuk.
Pintu terbuka dengan bunyi pelan.
Ruang tamu kosong.
Dapur kosong.
Lalu—
“Di sini!”
Suara itu datang dari ruang sebelah.
Dokter bergegas.
Paula mengikuti.
Dan pemandangan itu langsung membekukan darahnya.
Neneknya terbaring di lantai.
Tak bergerak.
Dan di sampingnya—
Nyonya Parfitt.
Ia berlutut, membelai rambut nenek dengan lembut.
Seperti seorang ibu menenangkan anaknya.
“Kamu datang,” katanya tanpa menoleh.
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
“Menjauh darinya,” kata dokter tegas.
Perlahan, Nyonya Parfitt berdiri.
Ia berbalik.
Dan tersenyum.
Di tangannya—
pisau.
“Kalian selalu datang terlambat,” katanya pelan.
Paula merasakan tubuhnya membeku.
“Dia tidak bahagia,” lanjut wanita itu. “Sendirian.
Ditinggalkan.”
“Itu tidak benar,” kata Paula, suaranya gemetar tapi
tegas. “Kami mencintainya.”
“Mencintai?” ulangnya. “Dengan membawanya pergi dari
sini?”
Ia menggeleng pelan.
“Kalian tidak mengerti.”
Matanya berkilat.
“Aku membuatnya tenang.”
“Itu racun,” kata dokter.
“Itu bantuan,” balasnya cepat.
Satu langkah ke depan.
Dokter bersiap.
Satu detik.
Dua detik—
Lalu Nyonya Parfitt menerjang.
Gerakannya cepat, liar.
Namun dokter lebih sigap.
Pisau itu terlepas.
Tubuh wanita itu ditahan.
Ia masih berteriak, meronta—
“Dia milikku! Dia butuh aku!”
Paula tidak bergerak.
Ia hanya menatap.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak hanya melihat seorang penjahat.
Tapi seseorang yang benar-benar… hilang.
***
Beberapa menit kemudian, semuanya berubah.
Ambulans datang.
Lampu biru berkedip.
Suara sirene memecah malam.
Neneknya diangkat dengan hati-hati.
Masih bernapas.
Masih hidup.
Paula akhirnya bisa bernapas lagi.
Namun tangannya masih gemetar.
Saat ia menoleh, ia melihat Nyonya Parfitt dibawa
keluar.
Wanita itu tidak lagi meronta.
Ia hanya menatap ke arah rumah.
Ke arah taman.
Dengan ekspresi kosong.
Seolah kehilangan segalanya.
***
Paula berdiri diam di halaman.
Angin malam berembus pelan.
Dingin.
Sepi.
Namun kali ini—
tidak menipu.
Ia tahu sekarang—
tidak semua yang terlihat tenang itu aman.
Dan tidak semua yang berbahaya… terlihat menakutkan
sejak awal.
BAB 7 — Sisa Malam
Paula tidak ingat bagaimana ia sampai ke rumah dokter.
Yang ia ingat hanyalah cahaya.
Lampu biru yang berputar.
Suara sirene yang menusuk.
Dan wajah neneknya—pucat, diam, nyaris tak bernyawa.
Ia duduk di sofa ruang tamu rumah dokter, kedua
tangannya saling menggenggam erat. Jemarinya dingin, meski ruangan itu hangat.
“Minum ini.”
Paula menoleh.
Istri dokter berdiri di depannya, menyodorkan
secangkir teh hangat. Wajahnya lembut, suaranya tenang.
Paula menerimanya dengan tangan sedikit gemetar.
“Terima kasih…”
Ia menyesap sedikit. Hangatnya menyebar perlahan, tapi
tidak cukup untuk mengusir dingin yang terasa di dalam dadanya.
“Dia akan baik-baik saja,” kata wanita itu pelan,
seolah membaca pikirannya.
Paula mengangguk, meski ia tidak benar-benar yakin.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
“Namaku Ibu Saras,” lanjut wanita itu. “Aku dengar
kamu suka tanaman?”
Paula mengangkat pandangannya.
Pertanyaan itu terasa… aneh, di tengah semua yang
terjadi.
“Aku… iya,” jawabnya ragu.
Ibu Saras tersenyum tipis. “Nanti kita bisa bicara
soal itu. Tidak semua tanaman itu jahat, kamu tahu.”
Kalimat itu membuat Paula terdiam.
Tidak semua tanaman jahat.
Tapi malam ini—
semuanya terasa seperti ancaman.
BAB 8 — Bayangan yang Tertinggal
Paula tidak langsung bisa tidur.
Setiap kali ia menutup mata, bayangan itu muncul
kembali.
Taman di bawah cahaya bulan.
Tangan yang memetik bunga.
Dan suara—
“Cantik, ya…”
Paula membuka mata dengan cepat.
Langit-langit kamar terasa asing.
Butuh beberapa detik sebelum ia ingat di mana ia
berada.
Rumah dokter.
Aman.
Ia duduk perlahan.
Jantungnya masih berdegup cepat.
“Ini cuma mimpi…” gumamnya.
Namun ia tahu itu bukan sekadar mimpi.
Itu ingatan.
***
Keesokan paginya, ia duduk di meja makan bersama
keluarga dokter.
Anak perempuan dokter, Sara, tersenyum ramah padanya.
“Kamu tidur nyenyak?”
Paula ragu sejenak. “Lumayan.”
Sara memiringkan kepala, seolah tahu itu bukan jawaban
jujur. Tapi ia tidak memaksa.
“Ayah di rumah sakit,” katanya. “Dia menemani
nenekmu.”
Paula langsung menegakkan badan. “Bagaimana
keadaannya?”
“Ibu bilang stabil.”
Paula menghembuskan napas lega.
Namun perasaan lain muncul.
Lebih berat.
“Aku seharusnya sadar lebih cepat,” katanya pelan.
Sara menatapnya. “Maksudmu?”
“Aku sudah merasa ada yang aneh sejak awal,” lanjut
Paula. “Tapi aku mengabaikannya.”
“Itu bukan salahmu.”
Paula menggeleng. “Kalau aku lebih cepat—”
“Kalau kamu tidak bertindak sama sekali, itu baru
salah.”
Paula terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi menghentikan pikirannya.
BAB 9 — Menghadapi Kenyataan
Rumah sakit berbau antiseptik.
Bersih.
Dingin.
Paula berjalan di samping dokter, langkahnya pelan.
“Dia masih lemah,” kata dokter. “Tapi kondisinya
membaik.”
Paula mengangguk.
Saat ia masuk ke kamar, jantungnya kembali berdebar.
Neneknya terbaring di ranjang.
Matanya tertutup.
Namun kali ini—dadanya naik turun dengan stabil.
Paula mendekat.
“Nek…”
Pelan.
Sangat pelan.
Kelopak mata itu bergerak.
Lalu terbuka.
“Paula…” suara itu lemah, tapi jelas.
Air mata langsung menggenang di mata Paula.
“Nenek…” ia menggenggam tangan itu erat. “Maaf… aku
terlambat…”
Nenek menggeleng pelan.
“Kamu datang tepat waktu,” bisiknya.
Paula menunduk. Bahunya bergetar.
“Dia…” Paula berhenti. “Dia ingin menyakiti kita.”
Nenek terdiam sejenak.
Lalu berkata pelan, “Dia tidak sepenuhnya mengerti apa
yang dia lakukan.”
Paula mengangkat wajahnya. “Tapi itu tetap berbahaya.”
“Ya,” kata Nenek. “Dan karena itu… dia harus
dihentikan.”
Untuk pertama kalinya, Paula melihat sesuatu yang
berbeda di mata neneknya.
Bukan hanya kelembutan.
Tapi juga ketegasan.
BAB 10 — Sesuatu yang Tumbuh
Beberapa hari berlalu.
Langit tampak lebih cerah.
Udara terasa lebih ringan.
Namun tidak semuanya kembali seperti semula.
Paula berdiri di halaman belakang rumah dokter,
memandangi deretan tanaman.
Hijau.
Tertata rapi.
Tidak seperti taman di sebelah pondok neneknya.
Sara datang menghampirinya.
“Kamu masih memikirkan itu?”
Paula mengangguk.
“Aku tidak mengerti,” katanya pelan. “Bagaimana
sesuatu yang indah bisa begitu berbahaya.”
Sara tersenyum kecil. “Itu bukan salah tanamannya.”
Paula menoleh.
“Ibuku selalu bilang—tanaman itu netral. Mereka tidak
memilih untuk menyakiti atau menyembuhkan.”
“Lalu siapa yang memilih?” tanya Paula.
“Kita.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi terasa berat.
Paula menatap kembali tanaman-tanaman di depannya.
Daun yang sama.
Bunga yang sama.
Namun maknanya berbeda sekarang.
“Aku ingin belajar lebih banyak,” katanya tiba-tiba.
Sara tersenyum. “Tentang botani?”
Paula mengangguk.
“Bukan cuma supaya bisa merawat tanaman,” lanjutnya.
“Tapi supaya aku tahu… mana yang berbahaya. Dan kenapa.”
Sara menepuk bahunya pelan. “Itu alasan yang bagus.”
Paula tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak malam itu—
ia tidak merasa takut.
***
Sore harinya, Paula duduk di samping tempat tidur
neneknya di rumah sakit.
Matahari masuk melalui jendela, menghangatkan ruangan.
“Nek,” katanya pelan.
“Hm?”
“Aku pikir… aku tahu apa yang ingin kulakukan nanti.”
Nenek membuka mata, menatapnya.
“Apa itu?”
Paula tersenyum.
“Aku ingin belajar tentang tanaman.”
Nenek menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “pastikan kamu
menggunakannya untuk hal yang benar.”
Paula mengangguk.
Ia akan mengingat itu.
Selalu.
BAB 11 — Kembali
Beberapa hari kemudian, Paula kembali ke pondok.
Langit cerah. Angin bertiup pelan.
Semuanya tampak sama.
Terlalu sama.
Ia berdiri di depan pintu, menatap taman yang dulu
terasa hangat—sekarang terasa berbeda. Masih indah, tapi ada sesuatu yang
hilang.
Atau mungkin… sesuatu yang tertinggal.
“Masuklah,” kata Nenek pelan dari belakangnya.
Paula menoleh. Nenek masih terlihat lemah, tapi sudah
bisa berdiri sendiri.
Paula tersenyum kecil. “Aku cuma… memastikan ini
benar-benar nyata.”
Nenek mengangguk. “Kadang setelah kejadian seperti
itu, semuanya terasa seperti mimpi.”
“Mimpi buruk,” gumam Paula.
Mereka masuk bersama.
Di dalam, rumah itu terasa kosong.
Tidak ada lagi suara lain.
Tidak ada tatapan dari sudut ruangan.
Namun justru itu—
membuat keheningan terasa lebih berat.
BAB 12 — Rumah Sebelah
Sore itu, Paula berdiri di batas pagar.
Memandang ke arah rumah sebelah.
Pintu tertutup.
Jendela gelap.
Taman itu masih ada.
Tanaman-tanaman itu masih tumbuh.
Tenang.
Diam.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sara berdiri di sampingnya. “Akan dibersihkan minggu
depan,” katanya. “Ayah bilang pihak berwenang akan mengurusnya.”
Paula tidak menjawab.
Matanya terpaku pada bunga foxglove yang bergoyang
pelan.
“Menyeramkan ya,” lanjut Sara.
Paula menggeleng pelan. “Bukan.”
Sara menoleh. “Bukan?”
“Itu yang membuatnya berbahaya,” kata Paula pelan.
“Semua terlihat biasa saja.”
Angin berembus.
Daun-daun bergerak.
Dan untuk sesaat, Paula hampir merasa melihat sosok
berdiri di antara tanaman itu.
Ia berkedip.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
BAB 13 — Luka yang Tidak Terlihat
Malam pertama kembali di pondok, Paula sulit tidur.
Ia berbaring, menatap langit-langit.
Setiap bunyi kecil terasa lebih keras.
Setiap bayangan terasa lebih gelap.
Ia memejamkan mata—
dan langsung melihatnya lagi.
Taman.
Cahaya bulan.
Dan suara itu—
“Dia milikku…”
Paula membuka mata dengan cepat, napasnya memburu.
Ia duduk, memeluk lututnya.
“Ini sudah selesai…” bisiknya pada diri sendiri.
Tapi tubuhnya belum percaya.
Beberapa menit kemudian, ia bangkit dan berjalan ke
jendela.
Ia membukanya perlahan.
Udara malam masuk.
Tenang.
Tidak ada siapa-siapa di luar.
Paula menatap taman itu lama.
Lalu, perlahan, napasnya mulai teratur kembali.
Ia tidak akan lari lagi.
BAB 14 — Memilih Jalan
Keesokan harinya, Paula duduk di kebun bersama Nenek.
Matahari pagi terasa hangat di kulit.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Nenek.
Paula menatap tanaman di depannya.
“Hal yang sama,” katanya. “Tapi rasanya berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
Paula berpikir sejenak.
“Dulu aku cuma melihat bunga,” katanya. “Sekarang aku
ingin tahu… apa yang ada di baliknya.”
Nenek tersenyum tipis. “Pengetahuan bisa membuatmu
lebih kuat.”
“Atau lebih takut,” tambah Paula.
“Benar,” kata Nenek. “Tapi ketakutan yang dipahami…
lebih mudah dihadapi.”
Paula mengangguk.
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Aku sudah memutuskan,” katanya.
Nenek menoleh. “Tentang?”
“Masa depanku.”
Paula tersenyum kecil.
“Aku ingin belajar botani. Tapi bukan hanya untuk
berkebun.”
“Lalu?”
“Untuk memahami,” jawab Paula. “Supaya aku tidak
pernah buta lagi terhadap hal berbahaya.”
Nenek menatapnya lama.
Lalu mengangguk.
“Itu pilihan yang bijak.”
BAB 15 — Yang Tersisa
Beberapa minggu kemudian, Paula bersiap pulang.
Koper sudah tertutup.
Langit mendung tipis, seolah musim panas mulai
bergeser.
Ia berdiri di depan pondok, menatap sekeliling untuk
terakhir kalinya.
“Sudah siap?” tanya Nenek.
Paula mengangguk.
“Lebih dari sebelumnya.”
Mereka berjalan perlahan menuju jalan desa.
Namun sebelum benar-benar pergi, Paula berhenti.
Ia menoleh ke arah rumah sebelah.
Taman itu kini sudah dibersihkan.
Kosong.
Tanahnya terbuka.
Seolah tidak pernah ada apa-apa di sana.
Namun Paula tahu—
tidak semua jejak bisa dihapus.
“Paula?” panggil Nenek.
“Iya,” jawabnya cepat, lalu berbalik.
Mereka melanjutkan langkah.
Kali ini tanpa ragu.
***
Saat bus mulai bergerak, Paula menatap keluar jendela.
Pondok itu semakin kecil.
Lalu menghilang.
Ia menyandarkan kepala, memejamkan mata.
Banyak hal telah berubah.
Tentang dunia.
Tentang orang lain.
Dan tentang dirinya sendiri.
Namun satu hal kini pasti—
ia tidak lagi takut pada apa yang tidak ia pahami.
Karena mulai sekarang,
ia akan belajar memahaminya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar