Sabtu, 18 April 2026

Melarikan Diri dari Thailand (Escape from Thailand)

Oleh Brenda Ralp Lewis
Diterjemahkan oleh Abdul R Saleh

Ada sesuatu yang mengambang di air. Lanakit berdiri di tepi pantai di Pattaya dan menatapnya tajam, mencoba mengira-ngira benda apa itu. Benda itu terlalu kecil dan terlalu datar untuk sebuah perahu nelayan, dan benda itu hanya hanyut tanpa tujuan, bergoyang maju mundur mengikuti gerakan air. Lanakit mengangkat bahu.

"Satu hal yang harus kulakukan," katanya pada dirinya sendiri. "Aku harus pergi dan melihatnya!" Tidak ada kegembiraan khusus dalam pikirannya. Dia akan pergi dengan perahunya dan mungkin hanya mendapatkan sepotong kayu atau ikan mati. Tetap saja. Itu sesuatu yang harus dilakukan. Sayang untuk menyia-nyiakan salah satu dari sedikit kesempatan yang dimilikinya dalam beberapa bulan terakhir untuk pergi ke pantai sendirian. Kesempatan yang sangat jarang diperoleh itu disebabkan karena tentara Jepang yang menjajahnya dan bahkan mereka menjadi penguasa di negaranya, Thailand. Akhir- akhir ini ayah Lanakit sangat khawatir setiap kali ia keluar rumah, meskipun hanya pergi beberapa menit ke pasar Naglue di ujung desa Pattaya. Ayahnya ingin Lanakit selalu berada di rumah, selalu bisa terlihat dan memastikan bahwa dia selalu aman. Lanakit mengerti bagaimana perasaan ayahnya. Ia berusaha melakukan yang terbaik seperti yang diinginkan ayahnya, tetapi itu sangat membuatnya frustrasi dan bosan. Hal itu sangat berbeda dengan hari-hari sebelum perang dimulai.

Lanakit mendesah. Baru enam bulan yang lalu, di bulan Desember 1941, ketika desa nelayan kecil Pattaya terakhir kali menjadi tempat yang damai dan menyenangkan di mana setiap orang bisa datang dan pergi sesuka hati? Rasanya sudah bertahun-tahun sekarang. Di waktu-waktu yang lalu, Lanakit dan temannya yang bernama Thalit, serta saudara laki-laki Thalit yang bernama Pirom, dapat menghabiskan hari-harinya di pantai, mencari potongan karang atau kerang laut.

Kadang-kadang, mereka melakukan perjalanan ke pulau yang agak jauh di seberang laut, di mana terumbu karangnya sangat cantik. Mereka biasa menangkap dan memasak satu atau dua ekor ikan untuk dimakan di siang hari, dan duduk di dekat pohon palem besar di pantai Pattaya sambil membentuk temuan mereka menjadi kalung yang akan dijual oleh sepupu Lanakit, Sammy, di warung kelontongnya di pasar Naglue. Pada masa itu, mereka tidak perlu repot memikirkan hal seperti pulang sebelum gelap atau tidak berbicara dengan orang asing di Pattaya. Saat itu tidak ada orang asing di Pattaya, dan tidak ada yang perlu ditakutkan.

Namun, sekarang kondisinya lain. Saat ia berlari cepat di sepanjang pantai menuju pohon palem tempat ia menambatkan perahunya, dengan sadar Lanakit mengamati hamparan pasir yang panjang dan jalan yang membentang di sepanjang pantai untuk mengetahui kalau-kalau ada tentara Jepang di sekitarnya. Ia juga mengamati apakah ada suara mobil atau langkah sepatu bot mereka. Menatap dan mendengarkan kedatangan tentara Jepang telah menjadi naluri dan kebiasaan bagi Lanakit. Begitulah juga pada setiap orang di desa Pattaya, dan mungkin juga di Bangkok dan di seluruh Thailand.

Lanakit mencapai perahunya dan melepaskannya. Suasana tenang di sepanjang pantai. Saat itu masih pagi sekali dan para nelayan sedang bekerja di teluk. Orang-orang Jepang itu mungkin masih ngorok di tempat tidur mereka, mabuk karena terlalu banyak minum sake tadi malam, begitu pikir Lanakit.

"Oh, betapa aku membenci mereka!" Lanakit menggertakkan giginya tanpa sadar saat memikirkan orang Jepang yang menjijikkan itu. Hanya karena ayahnya meminta untuk tidak melakukan hal-hal  bodoh yang membuat Jepang itu marah kepada keluarganya, Lanakit berhenti menjulurkan lidahnya ke arah tentara Jepang atau meniru cara berjalan mereka yang aneh dan berkaki bengkok.

Lanakit tahu itu hanyalah isyarat kecil, tetapi dia harus menunjukkan betapa dia membenci penjajah yang telah mengambil alih negaranya. Kakak laki-laki ayahnya, paman Chulong, yang tinggal di Bangkok, pernah memberi tahu Lanakit bahwa nama Thailand – Prateth Thai – berarti “Tanah yang Bebas”, tetapi pada tanggal 8 Desember 1941, pemerintah Thailand telah melawan Jepang selama lima jam sebelum mereka menyerah. Lima jam! Sungguh konyol, bahkan tidak cukup waktu untuk bertempur dengan baik! Setelah itu, Thailand seharusnya menjadi sekutu Jepang, tetapi kenyataannya mereka telah masuk sebagai penjajah dan Tanah Bebas itu tidak lagi bebas.

Sebagian besar warga Thailand tampak sedih karena harus hidup di bawah kekuasaan Jepang yang baru, meskipun dalam hati mereka berdoa agar Inggris atau Amerika, yang saat itu sedang berperang dengan Jepang, datang dan mengusir para penyerbu. Kapan itu akan terjadi, tidak seorang pun tahu. Namun, Lanakit tidak sabar untuk menunggu saat itu.

“Tetapi mengapa kita tidak melawan dan mengusir mereka?” protes Lanakit kepada ayahnya. “Mengapa kita harus hidup seperti ini – selalu berhati-hati untuk melakukan atau mengatakan apapun. Takut membuat mereka marah? Lagipula, ini negara siapa?” ​​Ayah Lanakit menatapnya sambil  tersenyum sedih.

“Ini negara kita, sayang, dan Sang Buddha tahu bahwa ini milik kita,” katanya. “Ketika kita pergi ke kuil dan berdoa kepadanya, Buddha tahu siapa kita dan menjaga kita di masa sulit ini.” Ia merangkul Lanakit dengan penuh kasih sayang, menyadari bahwa dia adalah seorang pria tua yang lelah, sedangkan Lanakit adalah seorang gadis muda yang bersemangat dan tidak sabaran. “Hidup ini tidak sesederhana itu, putriku.” Ayah Lanakit mendesah. “Tentara kita tidak cukup kuat untuk mengusir Jepang. Jika mereka mencoba mengusirnya, tentara Jepang itu bisa membuat lebih banyak banyak kerusakan dan kematian, dan keadaan kita bisa jauh lebih buruk dari sekarang!

Lanakit sangat mencintai dan menghormati ayahnya. Seperti yang dilakukan oleh gadis Thailand yang baik, tetapi dia terlalu marah dan frustrasi untuk tidak melanjutkan pertengkaran itu.

“Tetapi orang Jepang itu mengambil semua beras dan ikan kita, ayah, lalu mengusir orang-orang dari rumahnya dan mengambil rumahnya untuk diri mereka sendiri!” teriaknya. “Semuanya salah! Pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan?”

Ayah Lanakit tidak segera menjawab, hanya memeluknya dan menciumnya dengan lembut. Lanakit mengerti apa yang dikatakan ayahnya dengan sikap diam dan penuh kasih sayang. Tidak ada yang bisa dilakukan ayahnya, kecuali menyelamatkan keluarga dan rumahnya serta menunggu masa depan yang lebih baik.

Lanakit tidak suka berpikir seperti itu, dan terlalu menghormati ayahnya untuk mengatakan apa pun, tetapi dia tidak dapat menahan diri untuk berpikir bahwa mungkin Paman Chulong, yang tinggal di Krung Thep, atau Bangkok sebagaimana orang asing menyebutnya, adalah yang lebih berani dari ayahnya. Paman Chulong telah membentuk jalur pelarian ke Cina untuk para buronan tentara Jepang. Itu sangat berbahaya. Jika Jepang mengetahui apa yang dilakukan Pamannya, mereka hampir pasti membunuhnya, memenjarakan keluarganya, membakar rumahnya di tepi sungai klong di Bangkok, dan mengambil semua harta miliknya. Mungkin karena risikonya yang begitu besar itu Lanakit sangat mengagumi Pamannya. Dia hanya berharap dapat melakukan sesuatu yang berani seperti pamannya untuk melawan orang Jepang yang dibencinya. Namun, sebaliknya, dia terpaksa menemukan hal-hal menarik dengan menyelidiki benda-benda aneh di teluk pantai Pattaya. Lanakit marah saat dia mendorong perahu kecilnya menyusuri pasir ke ombak yang bergelombang lembut di tepi air. Dia membenci perasaan tidak berdayanya ini sama seperti dia membenci orang Jepang.

Lanakit melompat dan memegang dayung. Saat ia mendayung menjauh dari pantai, ia merasakan angin panas dan lembap dari musim hujan yang baru bertiup di wajah dan lengannya. Untunglah saat itu masih pagi sekali dan matahari tidak terlalu tinggi di langit. Namun, tak lama kemudian, matahari akan meninggi dan kemudian sinarnya akan membakar habis seperti api, dan semua orang harus tetap berada di tempat teduh agar tidak melepuh karenanya.

Lanakit merasa lebih baik sekarang karena dia berada di atas air. Seolah-olah dia telah membuat penghalang antara dirinya dan orang Jepang, meskipun Lanakit tahu dia harus berhati-hati terhadap prajurit dengan teropong yang tugasnya duduk di tebing tinggi di ujung barat pantai dan mengamati perairan di sekitarnya. Itu adalah sudut pandang yang bagus dan prajurit itu dapat melihat hampir semua yang terjadi di sepanjang pantai Pattaya dan di perairan lepas pantai. Mungkin dia sudah memata-matainya, pikir Lanakit, dengan sedikit rasa jengkel. Dia berbalik dan mengamati batu yang tinggi. Dia tidak ada di sana. Mungkin masih terlalu pagi.

Benda di dalam air itu hanyut ke arahnya, dan sekarang Lanakit dapat melihat bahwa benda itu cukup besar. Ia mempercepat perahunya dan mengarahkannya ke arah benda itu. Saat ia mendekat dan melihatnya dengan lebih jelas, ia terkesiap. Kulitnya tampak penuh duri dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Benda itu adalah seorang pria, pria jangkung sejauh yang dapat dia lihat, mengambang dalam jaket pelampung, lengan dan kakinya terentang dan tidak bergerak. Lanakit membawa perahu kecilnya ke sampingnya, menempatkannya di antara dia dan pantai. Secara naluriah dia melirik sekali lagi ke tanjung berbatu dan mengamati sepanjang pantai, mencoba melihat apakah ada orang di sekitarnya, tetapi dia hanya melihat sepupunya, Sammy, menuju pasar Naglue dengan kerbaunya yang penuh dengan muatan.

Lanakit mendesah lega, lalu berbalik untuk melihat lelaki di dalam air. Dia pasti sudah lama berada di sana, karena kulitnya yang putih pucat tampak tidak merata dan merah karena terpapar sinar matahari dan angin laut. Orang Eropa, atau mungkin orang Amerika, pikir Lanakit. Dia pasti berambut cokelat muda dan berjanggut tebal di dagunya. Tidak ada orang Asia yang memiliki rambut sebanyak itu di wajahnya.

Sebuah pikiran buruk muncul di benak Lanakit. Mungkin lelaki malang itu sudah meninggal. Dia jelas terlihat meninggal. Karena dia tidak bergerak sama sekali dan dia tidak bisa melihat apakah dia bernapas atau tidak. Sambil sedikit gemetar Lanakit mengulurkan tangan dan menyentuh pipi lelaki itu. Dingin. Tapi tidak terlalu. Kemudian, dia merentangkan telapak tangannya di depan hidung lelaki itu dan menunggu. Ya, sangat samar dan perlahan, lelaki itu mengendus: dia bisa merasakan hangatnya napas lelaki itu di tangannya.

Apa yang harus dia lakukan? Lanakit kebingungan. Dilihat dari penampilannya yang seperti orang Eropa, dia pasti musuh Jepang. Itu berarti dia adalah seorang buronan, sama seperti orang-orang yang ditolong Paman Chulong, tetapi Paman Chulongnya berada lima puluh kilometer jauhnya, di Bangkok.

"Baiklah, gadisku, kau menginginkan kegembiraan, kan?" Lanakit berkata pada dirinya sendiri dengan sedikit menyesal. "Sekarang kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan terhadapnya!"

Tiba-tiba, saat ia duduk di sana sambil merenung, Lanakit melihat kilatan cahaya di air. Ia segera mendongak. Orang Jepang sialan itu, yang membawa teropong di atas batu yang tinggi. Ia kembali bertugas mengawasi dan matahari pasti telah menangkap salah satu lensa teropongnya dan membuat kilatan cahaya yang tadi dilihatnya. Di sana berdiri sesosok gemuk dan pendek bertengger di atas batu paling atas.

"Andai saja dia jatuh!" pikir Lanakit sambil menjulurkan lidahnya ke arahnya. Dari jarak sejauh ini, ia membayangkan bahwa ia aman untuk melakukannya. Namun, saat ia duduk di sana, ia menyadari betapa seriusnya situasi yang dihadapinya. Paman Chulong pasti merasakan hal seperti ini jika sedang menyelundupkan orang. Seperti dirinya, Lanakit berada dalam posisi yang bisa tertangkap basah oleh musuh, Jepang. Jika pengintai itu melihatnya, dan pria di dalam air itu, ia bisa mendapat masalah.

Dengan cepat, Lanakit memperkirakan jarak antara perahunya dan orang Jepang di atas batu itu. Dia mungkin cukup jauh dan tidak terlalu tinggi untuk tidak melihat pria itu jika dia bisa memastikan perahunya menyembunyikannya. Dengan hati-hati, Lanakit menaikkan satu dayung untuk membawa perahunya berputar seperempat lingkaran. Perahu itu tidak terlalu panjang, tetapi sebagian besar pria itu tersembunyi. Atau setidaknya, Lanakit berdoa demikian.

Kemudian, sebuah pikiran muncul di benaknya. Ia bisa saja mengangkat jaring ikannya ke samping dan orang Jepang akan mengira ia hanya berusaha menangkap ikan. Jika ia benar-benar melihatnya.

Dia melihatnya. Entah bagaimana itu tidak dapat dihindari, pikir Lanakit muram. Sesuatu bisa salah dalam kondisi krisis, itu akan selalu terjadi; itulah yang selalu dikatakan oleh saudara laki-laki Sammy yang murung, Tonsan.

Lanakit membuat dirinya duduk diam, tidak bergerak saat teriakan dari pengintai Jepang bergema di telinganya, di seberang air. Dia memutar matanya ke samping untuk melihat apa yang sedang dilakukannya, dan bisa melihatnya, berdiri di atas batu dan menunjuk ke arahnya. Dia tampaknya sedang berbicara dengan seseorang di belakangnya. Orang Jepang kedua muncul beberapa saat kemudian, prajurit yang pendek dan gempal, dan bersama-sama dia dan pengintai itu menangkupkan tangan di sekitar mulut mereka dan mulai berteriak.

Lanakit merasa sedikit takut, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap duduk di sana, seolah-olah ia sedang memancing. Kedua orang Jepang itu melambaikan tangan mereka sekarang, mencoba menarik perhatiannya.

"Aku tidak bisa mengabaikan mereka lebih lama lagi," pikir Lanakit putus asa. "Aku harus melakukan sesuatu!" Jika orang-orang Jepang di atas tebing itu memutuskan untuk datang ke teluk dan menyelidiki, itu akan menjadi akhir dari segalanya. Tidak hanya untuk Lanakit, tetapi juga untuk ayahnya dan seluruh keluarganya. Dan mungkin untuk Paman Chulongnya dan tentu saja untuk orang asing yang sedang dia lindungi di belakang perahunya. Jika dia tidak menyelamatkannya, maka dia mungkin akan menjadi tawanan Jepang.

Dalam beberapa menit sejak ia menemukannya, tak berdaya dan tak sadarkan diri mengambang di air, Lanakit telah bertekad keras untuk melindungi orang asing ini dan melakukan semua yang ia bisa untuk menolongnya. Ini kesempatannya, ya, kesempatan yang telah ia tunggu-tunggu: untuk melakukan sesuatu yang benar-benar positif terhadap orang-orang kecil menjijikkan dengan wajah seperti topeng yang kejam yang mengira mereka bisa menjadi penguasa di Negeri Bebas.

Kedua calon tuan ini, dua orang Jepang di atas batu karang, jelas ingin Lanakit membawa perahunya ke pinggir. Itu terlihat dari cara mereka melambaikan tangan dengan penuh semangat sambil menunjuk ke arah pantai. Lebih baik berpura-pura tidak mengerti. Jika dia tampak cukup bodoh, mereka mungkin akan bosan dan tidak akan mengganggunya lagi.

Lanakit menoleh dan melihat ke arah dua orang Jepang itu. Ia menundukkan kepalanya ke satu sisi, dan meletakkan satu tangan di telinganya, seolah mencoba memahami apa yang mereka teriakkan. Salah satu dari mereka mengawasi melalui teropongnya. Memaksa Lanakit untuk menyingkir, karena itu yang ingin ia lakukan. Lanakit tersenyum lebar dan mulai melambaikan tangannya.

Ohio gozai mas!” teriaknya sekeras mungkin. “Hajimemashte?” Selamat pagi, apa kabar? Lanakit meneriakkan satu-satunya bahasa Jepang yang dikenalnya, tetapi mungkin akan berhasil jika dia bisa membawa kedua makhluk itu ke tebing untuk menghilangkan jejak. Mereka menjulurkan kepala ke depan, mencoba mendengar apa yang dikatakannya. Lanakit terus melambaikan tangan dan tersenyum dan berpikir betapa dia membenci dan menjijikan mereka berdua. Kemudian, lega rasanya setelah melihat salah satu orang Jepang itu tersenyum. Senyum itu berubah menjadi tawa, yang bergema di seberang air padanya. Orang Jepang lainnya sekarang menyeringai lebar. Mungkin aksen Thailand Lanakit yang membuat mereka geli, tetapi apa pun itu, beberapa patah kata bahasa Jepang yang terbata-bata itu telah meyakinkan mereka bahwa Lanakit tidak berbahaya.

Mereka berteriak lagi padanya, tetapi kali ini sambil tersenyum dan melambaikan tangan dengan ramah. “Sawadee! Sawadee!” teriak mereka. “Halo! Halo!” Mungkin itu satu-satunya kata dalam bahasa Thailand yang mereka ketahui.

Akhirnya, semua teriakan dan sapaan berhenti dan pengintai kembali mengamati sisi seberang teluk, ke arah yang berlawanan dengan tempat Lanakit berada, sementara rekannya menghentakkan kaki, mungkin untuk kembali ke tugasnya sendiri. Namun, beberapa detik kemudian, Lanakit mendengar suara mesin mobil, "Dia datang ke desa!" Pikir Lanakit dengan cemas. Tidak ada tempat lain bagi orang Jepang untuk berkendara dan tidak ada yang bisa dilakukan Lanakit selain duduk diam.

Suara mesin mobil yang berderak dan batuk-batuk serta gigi-gigi yang bergesekan saat orang-orang Jepang itu meluncur menuruni jalan tebing terdengar cukup jelas di udara pagi yang tenang. Lanakit mencengkeram erat tongkat di tangannya dan berpura-pura melanjutkan memancing. Ia melirik sekilas ke arah pengintai yang masih berada di atas tebing. Syukurlah ia melihat ke arah yang berlawanan. Mungkin, dengan keberuntungan, ia akan melupakan semua tentang Lanakit dan perahunya.

Tiba-tiba mobil Jepang itu muncul dalam pandangan, meluncur di sepanjang jalan yang berada di tepi pantai.

“Jangan berhenti…tolong jangan berhenti!” Lanakit berdoa sambil menatap tajam ke arah orang Jepang yang duduk di kursi pengemudi. Tetapi mobil itu berhenti. Ia menepi di sisi jalan, mengejutkan seorang anak laki-laki dan perempuan yang sedang berjalan di sepanjang pohon palem di tepi jalan. Mereka harus melompat menghindar dengan sangat cepat karena orang-orang Jepang itu tergelincir untuk berhenti sehingga gadis itu tersandung dan jatuh. Anak laki-laki itu membantunya berdiri dan Lanakit melihatnya mendorongnya ke belakang seolah-olah untuk melindunginya dari kemarahan orang-orang Jepang di dalam mobil. Menghalangi jalan orang Jepang adalah kejahatan akhir-akhir ini, pikir Lanakit dengan getir.

Kemudian, yang membuatnya terkejut, ia mengenali anak laki-laki itu. Ia adalah Pirom. Gadis itu pastilah saudara perempuannya, Thalit. Pirom mengenakan longgyi kesayangannya lagi, yang bergaris-garis merah, putih, dan biru, warna bendera nasional Thailand. Mengenakan longgyi yang dililit rok panjang itu sendiri hampir merupakan tindakan pembangkangan, karena itu semacam pakaian nasional bagi orang Thailand: mengenakan warna nasional negara itu merupakan pembangkangan ganda, dan Lanakit tahu bahwa Pirom melakukannya dengan sengaja, sebagai protesnya yang dilakukannya diam-diam, tetapi sangat terasa terhadap penjajah Jepang.

“Oh, tidak!” desah Lanakit. “Bukan Pirom dan Thalit!” Sudah cukup buruk baginya mendapatkan masalah dengan orang Jepang. Ia tidak ingin kedua sahabatnya juga terlibat.

Lanakit sangat lega karena ada masalah. Orang Jepang di dalam mobil itu sama sekali tidak memperhatikan Pirom dan Thalit. Sebaliknya, ia berbalik di kursi pengemudi, melambaikan tangan ke arah Lanakit, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Ohio gozaimas!” teriaknya, meniru aksen Jepang Lanakit yang sangat buruk. Lanakit balas melambaikan tangan, dan kali ini tersenyum geli. “Dasar orang Jepang bodoh,” pikirnya. “Andai saja kau tahu!”

Sampai sekarang, Lanakit tidak berani berpikir untuk melihat ke sisi perahunya, ke arah lelaki yang mengapung di air. Orang Jepang itu mungkin akan curiga jika dia melakukannya. Lanakit memaksa dirinya untuk menunggu sampai orang Jepang itu berlalu, sambil tersenyum lebar dan tertawa sendiri, melaju di jalan menuju pasar Naglue. Baru setelah mobil itu menghilang, Lanakit memberanikan diri untuk melirik ke sisi perahu. Lelaki di air itu tidak bergerak. Dia masih mengapung di sana, tidak sadarkan diri, meskipun Lanakit membayangkan dia melihat kelopak matanya bergetar.

Dia harus membawanya ke pantai secepat mungkin. Pengintai di puncak tebing itu pasti akan berbalik ke arahnya cepat atau lambat. Bagaimana jika pria itu sadar kembali dan mendapati orang asing menatapnya? Dia mungkin akan berteriak, dan permainan akan berakhir.

Pirom dan Thalit kini berada di tepi air. Mereka menyadari kedatangan Lanakit dan melambaikan tangan untuk menarik perhatiannya. Lanakit melihat Pirom membungkukkan bahunya dan menekuk lengannya ke luar seolah berkata, "Apa yang terjadi?" Lanakit memberi isyarat kepada mereka untuk berenang keluar secepat mungkin. Pasti ada sesuatu yang sangat mendesak dalam gerakan yang tersampaikan dari jarak di antara mereka, karena Pirom langsung memasang longgyi-nya dan mulai mengarungi air, dengan Thalit mengikuti dari belakang. Mereka adalah perenang yang baik, dan hanya butuh beberapa menit bagi mereka untuk sampai di samping perahu Lanakit.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Pirom sambil menyingkirkan rambut basah dari matanya. "Dan mengapa orang Jepang itu begitu ramah?"

Lanakit mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan jaring ikannya di dasar perahu. "Jangan bertanya apa-apa sekarang, Pirom! Lihat di belakang perahu!" bisiknya. Thalit mendayung ke atas saat itu, dan terkesiap ketika melihat lelaki itu mengambang di air.

"Siapa dia? Apa yang dia lakukan di sini?" Dia menginjak air dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan pria itu. "Menurutmu, apakah dia sudah mati?" Thalit melanjutkan, matanya membelalak karena cemas.

"Tidak, tapi kita harus segera mengeluarkannya dari air!" kata Lanakit.

Pirom telah mengamati pria itu, dan tiba-tiba berkata, "Dia orang Amerika - seorang penerbang!"

"Bagaimana kau tahu?" seru Lanakit.

"Ini jaket pelampung Amerika," kata Pirom. Dia sangat tertarik pada seragam dan senjata dan selalu membaca buku dan majalah perang. "Kurasa dia pasti telah melompat ke suatu tempat di atas Teluk. Kurasa pesawatnya ditembak jatuh. Ada beberapa pertempuran udara yang terjadi di sekitar Samut Songkhram kemarin sore. Mungkin dia ada di sana!"

"Kita tidak bisa mengambil risiko dengan mencoba memasukkannya ke dalam perahu," kata Lanakit kepada Pirom dan Thalit. "Dia terlalu berat bagi kita, dan orang Jepang mungkin melihatnya, tetapi kita bisa menariknya. Bagaimana kalau kalian berdua menopangnya di air sementara aku mendayung perahu - apakah itu bisa dilakukan, menurut kalian?"

"Apakah ada alternatif lain?" tanya Pirom.

"Tidak."

"Kalau begitu, itu bisa dilakukan!" kata Pirom tegas.

"Ayo, Thalit, kau ambil kakinya. Awasi pengintai."

Itu adalah tugas yang melelahkan. Bersama-sama, mereka mengikat jaket pelampung orang Amerika itu ke sisi perahu dengan beberapa tali pancing cadangan. Dengan Pirom dan Thalit memeganginya dan berenang sekuat tenaga, Lanakit berhasil mengarahkan perahu ke suatu tempat di ujung pantai tempat sebuah batu menjorok ke tepi air, membuat tempat persembunyian sempit di atas pasir.

Thalit bergegas keluar dari air dan berjaga-jaga terhadap orang Jepang yang mendekat sementara Lanakit dan Pirom menyeret, mengangkat, dan menarik hingga akhirnya mereka berhasil menyeret orang Amerika itu keluar dari air ke pasir. Dengan semua penanganan kasar yang diterimanya, tidak mengherankan bahwa ia sekarang mulai bergerak. Ia menggumamkan beberapa kata yang tidak dapat dipahami oleh Lanakit, yang tahu sedikit bahasa Inggris.

Lanakit tidak berniat untuk tinggal dan terlibat dalam pembicaraan.

"Tutupi dia dengan daun palem!" bisiknya kepada Pirom. "Kau dan Thalit tinggallah di sini. Aku akan mencari Sammy. Dia akan membantu kita."

Lanakit lelah dan gemetar setelah semua usaha dan ketegangan selama setengah jam terakhir, tetapi dia berlari sepanjang jalan melalui Pattaya dan ke pasar Naglue. Ketika dia sampai di kios, dia mendapati Sammy sedang sibuk berunding dengan seorang wanita mengenai harga beberapa karung beras. Lanakit menunggu, gatal dan tidak sabar karena penundaan itu. Akhirnya, harga disepakati dan wanita itu pergi dengan belanjaannya yang ditanggungnya.

"Halo Lanakit. Kamu bawa kalung kerangmu lagi?" Sammy menoleh padanya sambil tersenyum ramah. Namun, senyumnya memudar saat dia melihat ekspresi mendesak di wajahnya.

Lanakit menoleh cepat sebelum berbicara, untuk memastikan tidak ada yang mendengarkan. "Tidak ada kalung!" bisiknya kepada Sammy. "Tiga karung beras!" Dia melihat alis Sammy sedikit terangkat karena terkejut. "Tiga karung beras" adalah kode Paman Chulong untuk seorang buronan asing dari Jepang.

Berbicara dengan cepat dan pelan, Lanakit menceritakan semua yang telah terjadi kepada Sammy. "Kamu harus membawa karung beras itu ke Paman Chulong di Bangkok," katanya dengan nada mendesak. "Kalau tidak, orang Jepang akan menangkapnya!"

Sammy tampak muram. "Tidak, kalau aku bisa menghindarinya!" katanya. "Aku tidak akan memberikan mereka sebutir beras pun, jika itu terserah padaku!"

Namun, Sammy merasa kesal karena itu bukan keputusannya, seperti yang diketahui Lanakit. Seminggu sekali, ia harus menempuh perjalanan enam jam dengan kereta sapi ke Bangkok untuk mengirim beras ke gudang milik komandan Jepang di sana. Sammy tidak suka melakukannya, meskipun harga yang dibayarkan Jepang cukup pantas, tetapi ia tidak punya pilihan. Perjalanan minggu ini akan dilakukan besok, dan kali ini, pikir Sammy, akan jauh lebih menyenangkan. Ada daya tarik besar dalam gagasan untuk menipu Jepang dan membantu salah satu musuh Amerika mereka lolos melalui jalur pelarian Paman Chulong. Itu adalah pertama kalinya Sammy memiliki kesempatan untuk melakukan hal seperti itu, dan ia menantikannya. Namun, itu bukan sekadar masalah sederhana mengangkut "tiga karung beras" ke Bangkok. Ada pengaturan yang harus dilakukan.

"Aku akan mengirim Tonsan lebih dulu, sore ini, untuk memberi tahu Paman Chulong agar menunggu karung itu besok." Sammy memberi tahu Lanakit dengan pelan.

"Tonsan!" Lanakit mengernyit. Dia sama sekali tidak menyukai ide itu. Lanakit melirik ke seberang pasar ke tempat Tonsan berdiri di dekat kios sayurnya. Dia melihatnya dan mengangguk sebagai salam. Itu sesuatu, pikir Lanakit. Tonsan sedang dalam suasana hati yang ramah untuk pertama kalinya. Meskipun begitu, dia tidak pernah merasa nyaman dengannya. Tonsan adalah orang yang keras kepala dan Lanakit sama sekali tidak yakin dia adalah orang yang tepat untuk tugas sepenting itu.

Tapi Sammy lebih percaya diri. "Tonsan akan melakukannya untukku - jangan khawatir," katanya. "Dia membenci orang Jepang sama seperti kita!"

Lanakit juga tidak terlalu senang dengan hal itu. Dari waktu ke waktu, ia mendapat kesan bahwa apa yang disebut kebencian Tonsan terhadap orang Jepang agak suam-suam kuku. Tonsan tidak begitu menyukai mereka, tetapi setidaknya, ia pernah berkata, orang Jepang adalah orang Asia, seperti orang Thailand juga, tidak seperti orang Eropa sombong yang telah menjadikan diri mereka penguasa di India, Burma, atau Malaya dan menganggap diri mereka jauh lebih baik daripada "penduduk asli" di negeri-negeri itu.

Sammy tampaknya bisa membaca pikiran Lanakit. "Hei ingat, dia saudaraku - dia satu-satunya orang yang benar-benar bisa kupercaya untuk pergi ke Paman Chulong. Tonsan tidak akan pernah membahayakan kita."

Lanakit berharap demikian. Ia berharap demikian dengan sepenuh hati, karena jika terjadi sesuatu yang salah karena Tonsan, ia tidak akan pernah memaafkannya - atau dirinya sendiri. Betapa pun ia berusaha, ia tidak dapat menahan pikiran itu saat Sammy dengan cepat menguraikan rencananya untuk mengeluarkan penerbang itu dari pantai.

Setelah selesai, Sammy meraih karung besar di belakang kiosnya. Ia mengamati karung itu, menilai ukurannya, dan memutuskan bahwa karung itu sesuai dengan tujuan yang ada dalam benaknya. Sammy melipatnya dan memasukkannya ke dalam karung beras.

"Ini. Bawa ini kembali ke pantai," katanya kepada Lanakit, sambil memegang karungnya. "Tunggu, tolong jaga kiosku sementara aku pergi dan berbicara dengan Tonsan." Sammy meremas bahu Lanakit dan tersenyum lebar sebelum berjalan ke kios Tonsan, tempat ubi, melon, kelapa, dan kubis ditumpuk rapi dan tersusun rapi. Lanakit memperhatikan mereka berbicara. Tonsan terus mengangguk dan hati Lanakit hancur. Tonsan setuju untuk membantu. Entah bagaimana, dia lebih suka jika Tonsan menolak.

Ketika Lanakit kembali ke sudut pantai tempat orang Amerika itu bersembunyi, dia mendapati pria itu sedang duduk, tampak sedikit linglung tetapi tidak terluka. "Siapa ini?" gumamnya, berusaha keras untuk memfokuskan pandangannya pada Lanakit.

"Ini Lanakit, dia yang menemukanmu..." Pirom berusaha keras mencari kata-kata yang tepat. Seperti semua anak Thailand, Pirom belajar bahasa Inggris di sekolah, tetapi gurunya tidak pernah mengira bahasa Inggrisnya harus digunakan dalam situasi seperti ini.

Pirom menoleh ke Lanakit, dan untungnya kembali menggunakan bahasanya sendiri. "Saya benar!" katanya penuh kemenangan. "Dia orang Amerika - pilot benar-benar Angkatan Laut Amerika. Letnan Frank Birch!"

Letnan itu mengangguk dan tersenyum pada Lanakit, mendengar namanya disebut di antara kata-kata lain yang tidak dapat dipahaminya,.

Ia mengulurkan tangannya. Lanakit menjabatnya. "Sepertinya aku harus banyak berterima kasih padamu, nona kecil!" Frank Birch bergumam, berusaha tersenyum. Ia masih merasa terlalu pusing dan linglung untuk berpikir normal. Namun, satu hal yang dia ingat. Ketika pesawat tempur Jepang, yang menembaki pesawatnya di atas langit Samut Songkhram, memaksanya untuk melompat ke laut di bawahnya untuk menyelamatkan diri. Dia tidak pernah menyangka akan terbangun di pantai Thailand dan diselamatkan oleh anak-anak bertubuh ramping dan tampak serius ini.

Orang Amerika itu ingat ke anaknya sendiri di Amerika Serikat. Saat ini mereka sedang sibuk berusaha untuk lolos ke tim bisbol dan memperoleh nilai bagus dalam ujian, bukan mempertaruhkan kebebasan dan bahkan nyawa mereka untuk mengecoh orang Jepang.

Letnan Birch menghela napas dalam-dalam. "Yeah..." desahnya. "Ini perang terkutuk. Perang terkutuk." Lanakit mendengarnya dan tampak khawatir.

"Kau sakit? Kau butuh dokter?" tanyanya berbisik. "Tidak, tidak... aku merasa baik-baik saja! Baik-baik saja!" Birch tersenyum padanya. Dia bohong. Seluruh badannya merasa sakit, tetapi ia tidak akan mengakuinya pada anak-anak muda pemberani ini. Jika mereka berhasil mengeluarkannya dari pantai ini tanpa terlihat oleh orang Jepang, itu akan menjadi keajaiban. Namun demi mereka, Frank Birch merasa ia harus berusaha keras untuk bekerja sama, apa pun yang mereka rencanakan untuk mencapainya.

Meskipun bahasa Inggris Lanakit lebih baik daripada Pirom, bahasanya masih belum cukup baik untuk menjelaskan apa rencananya. Orang Amerika itu akan segera mengetahuinya, pikirnya. Sudah hampir waktunya bagi Sammy untuk tiba.

"Lihat Sammy," katanya pada Thalit. Dia akan mengemudikan kereta sayur besar Tonsan." Thalit memposisikan dirinya di dekat puncak batu dan memperhatikan jalan. Lanakit karung besar yang tadi diberi Sammy dan membukanya. "Masuklah ke dalam karung, kumohon!" katanya pada Birch. "Apaaa…" Mata biru orang Amerika itu membulat karena terkejut.

Rencana gila apa ini? Pirom juga terkejut. Alisnya terangkat.

Lanakit tidak sabar. "Kau ingin kabur kan? Melarikan diri dari Jepang?" tanyanya. "Tentu saja!" seru Birch dengan antusias. "Kalau begitu, masuklah ke dalam karung ini!" Dagu Lanakit mengeras dan ada kilatan tekad di matanya.

Frank Birch mendesah, mengangkat bahu, dan menyerah. Ini ide gila. Tapi juga, tidak ada pilihan. Kamu tidak bisa bersembunyi selamanya di pantai ini, dan jika kamu mencoba kabur sendiri, kamu pasti akan terlihat dan mudah dikenali. Bahkan seandainya jika kamu dapat menyembunyikan kulit putihmu dan rambutmu yang cokelat muda itu di antara orang-orang Thailand dan Jepang berambut hitam di Pattaya, tinggimu yang hampir dua meter itu pasti terlihat.

"Baiklah, nona kecil," kata orang Amerika itu kepada Lanakit. "Saya harap kamu tahu apa yang kamu lakukan!" Frank Birch masih kaku dan sakit karena berjam-jam berada di air, tetapi dengan bantuan Pirom dan Lanakit, ia berhasil merangkak ke dalam karung dan menggeliat hingga hanya kepalanya saja yang terlihat. Lanakit dan Pirom menutupinya dengan daun palem yang besar dan lebar. Sampai sejauh ini berhasil. Situasinya akan sangat mengerikan seandainya seseorang melihatnya dan menyerahkannya kepada orang Jepang.

Lanakit bergabung dengan Thalit di tempat yang strategis, dan mereka bersama-sama mengamati jalan. Sammy seharusnya sudah datang menyusul sebentar lagi. Benar saja, dalam beberapa detik, suara gemuruh dari kejauhan terdengar di telinga mereka. Kemudian, kereta sapi itu terlihat. Kereta itu memuat karung-karung besar yang ditumpuk tinggi di atasnya. Sammy duduk sambil memegang tali kekang sapi. Di sebelahnya ada Tonsan. Lanakit mengamati dengan saksama. Sammy mulai menarik tali kekang dan sapi itu mulai berbelok ke sisi jalan. Lanakit menoleh ke Frank.

"Tundukkan kepalamu sekarang," bisiknya mendesak. Orang Amerika itu menunduk ke dalam karung dan Pirom menarik bagian atas karung dan mengikatnya. Lanakit berlutut di samping karung. "Kau bisa bernapas?" tanyanya. "Agak sulit," terdengar suara teredam. "Bagus! Sekarang tolong, jangan bersuara, atau berteriak atau berkata-kata, apa pun yang terjadi!" Frank Birch tertawa gugup. "Kau tidak akan bisa membuatku bersuara, nona kecil!" ia meyakinkannya, dan berdoa dalam hati.

Sammy dan Tonsan kini begitu dekat sehingga Lanakit dapat melihat ekspresi tegang di wajah mereka. Sammy tampaknya kesulitan mengendalikan sapinya. Tidak mengherankan karena ia menarik tali kekang dengan tidak seimbang dan menyentaknya sedikit untuk mengguncang binatang malang yang itu. Kemudian hal yang tak terelakkan terjadi, persis seperti yang direncanakan Sammy.

Sapi jantan yang kebingungan itu salah langkah, tersandung dan hampir jatuh. Dalam usahanya untuk tetap tegak, ia menghantamkan berat badannya ke poros yang menahannya ke gerobak. Gerobak itu tersentak ke samping, roda luar terangkat dari tanah. Gerobak itu seimbang selama satu atau dua detik pada roda dalamnya, lalu jatuh ke jalan setapak di antara pohon-pohon palem. Saat melakukannya, Sammy mendorong salah satu karung dengan tangannya dan setengah lusin karung meluncur turun, membawa Tonsan bersama mereka. Salah satu karung berguling ke arah batu, dan Thalit merasakan guncangan saat karung itu bersandar padanya. Tiga atau empat karung lainnya, yang dibiarkan Sammy tidak terikat, pecah dan isinya tumpah keluar. mengirimkan kelapa, kubis, dan ubi jalar memantul di sepanjang jalan setapak dan menuruni pantai.

Segerombolan orang mulai berkumpul. Mereka menyaksikan dengan penuh minat saat Tonsan melompat berdiri dan mulai melambaikan tinjunya ke arah Sammy, yang entah bagaimana berhasil bertahan di gerobak.

"Dasar bodoh! Dasar idiot!" Tonsan berteriak padanya. Lihat apa yang telah kau lakukan! Kau bahkan tidak bisa mengendarai gerobak sapi?" Tonsan melihat sekelilingnya, melihat tumpukan karung dan sayuran yang berserakan. "Lihat ini! Semua hasil panenku hancur karena ulahmu." Lanakit berjongkok di samping Thalit, mengamati dan mendengarkan dari balik batu. Ia tersenyum. Ia mungkin tidak begitu menyukai Tonsan, tetapi ia memainkan perannya dengan baik. Sammy, yang tampak garang dengan kemarahan yang pura-pura, mulai merangkak turun menuju Tonsan.

"Salahku?" gerutunya. "Dasar bodoh, ini salahmu. Sudah kubilang jangan masukkan kelapa ke dalam kereta." Sammy mendekatkan wajahnya ke wajah Tonsan, dan mereka berdua saling menatap dengan marah. "Tumpahkan satu atau dua karung lagi kalau bisa," desis Sammy pada Tonsan. "Kita butuh waktu sebanyak mungkin."

Tonsan melirik ke arah telinga Sammy dan melihat dua tentara Jepang di seberang jalan. Beberapa kelapa terguling ke sana, dan salah satu tentara membungkuk untuk mengambilnya. Tonsan berpikir bahwa orang Jepang itu mungkin orang yang jujur. Dia mungkin akan datang dan mengembalikan kelapa-kelapa itu serta membantu membersihkan kekacauan itu. Itu tidak akan pernah berhasil. Tonsan membiarkan dirinya dipandangi oleh Sammy. Dia mundur beberapa langkah dan tampak kesal.

"Tidak ada gunanya berdebat denganmu," gerutunya. "Ayo kita masukkan semuanya kembali ke gerobak atau ke tempat ini." Tonsan melambaikan tangannya ke arah kerumunan yang mengepung mereka, menikmati tontonan itu. "orang-orang ini akan mendapat sayur gratis malam ini!" Tonsan menyelesaikan.

Ucapan Tonsan seperti sebuah undangan. Sekitar selusin pria dan wanita menyerbu ke depan dari kerumunan dan mulai memunguti sayuran yang tumpah dan memasukkannya kembali ke dalam karung. Satu atau dua kelapa dan beberapa ubi jalar kecil menghilang di balik lengan baju mereka atau di balik celana panjang mereka, tetapi Tonsan tidak memedulikannya. Begitu pula Sammy. Dia menunggu beberapa saat, hingga kerumunan berkumpul di sekitar sayuran yang tumpah dan tiga atau empat orang membantu Tonsan untuk mengembalikan gerobak ke atas rodanya. Tiga atau empat orang lagi mengerumuni sapi jantan itu, untuk membuatnya tetap tenang dan sunyi selama operasi berlangsung.

Di tengah semua kekacauan itu, Sammy membungkuk, tak terlihat oleh dua tentara Jepang di seberang jalan, dan bergegas menyeberang ke arah batu. "Lanakit!" desisnya, "Cepat sekarang... kita punya waktu sekitar tiga puluh detik." Sambil melirik sekilas ke belakang, untuk memastikan dia tidak terlihat, Sammy bergerak cepat menyusuri pantai ke tepi air, mengitari ujung batu dan meraih salah satu karung besar yang sudah mulai diseret Lanakit dan Pirom ke arahnya. Bersama-sama, mereka menariknya ke atas pasir menuju jalan setapak lalu menggulingkannya di antara setengah lusin karung lain yang ditumpuk di pinggir jalan.

Gerobak itu kini sudah tegak lagi, dan salah seorang pria yang telah mengerumuni sapi jantan itu menyatakan bahwa sapi itu tidak terluka. Tonsan telah berhasil mengambil sebagian besar sayuran yang tumpah, dan dengan bantuan Sammy, Pirom, dan satu atau dua orang dari kerumunan, karung-karung itu sudah diangkat, lalu ditumpuk kembali ke gerobak. Lanakit berdiri dengan kakinya di atas karung berisi Frank Birch yang memar, tersentak, dan terkejut untuk memastikan bahwa karung itu adalah karung terakhir yang akan ditaruh di atas karung. Akhirnya, Birch merasa dirinya diangkat, lalu ditumpahkan ke permukaan yang keras dan bergelombang. Ketika semuanya sudah selesai, Tonsan melotot ke arah Sammy. "Kali ini, aku yang akan mengemudi!" bentaknya.

Sammy mengangkat bahu. "Terserah kau... tapi lain kali muat kereta dengan benar!" Tonsan mengerutkan kening dengan marah, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia berbalik, naik ke kereta dan mengambil kendali. Sammy memanjat mengejarnya, lalu mengulurkan tangan untuk menarik Lanakit ke sampingnya.

Begitu gerobak bergemuruh beberapa ratus meter, Sammy dengan lembut membuka bagian atas karung Frank Birch. Saat melakukannya, ia melihat dua mata biru menatapnya dari kedalamannya. "Astaga!" gerutu Frank Birch. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Lanakit bersandar, tanpa melihat ke arah orang Amerika itu, seolah-olah ia sedang bersantai di atas karung sayuran. "Kau lolos dari Jepang," bisiknya dari sudut mulutnya. "Itulah yang terjadi!"

Lanakit dapat merasakan kesibukan, tekanan, dan hiruk pikuk Bangkok jauh sebelum gedung-gedung tinggi modern dan atap genteng hijau dan jingga yang menghiasi kuil-kuilnya terlihat di cakrawala. Ada kegembiraan di kota itu, semangat yang tampaknya menjangkau dataran luas sawah di sekitarnya. Lanakit menyukainya, dan meskipun ada bahaya dalam usaha yang kini tengah ia dan Sammy jalani, ia menikmati setiap menit perjalanan ke Bangkok dan prospek untuk melihat kota itu sekali lagi.

Dia melirik Sammy, yang duduk di sampingnya di atas tumpukan karung beras, memegang kendali dengan longgar di tangannya. Sapi jantan itu telah menempuh jalan ke Bangkok begitu sering sehingga praktis tahu jalannya sendiri ke sana, dan Sammy tertidur. Sebagian karena panasnya pagi itu, sebagian karena kemonotonan hijau pedesaan datar yang mereka lalui, dan sebagian lagi karena kelelahan kemarin sore di Pattaya.

Mengingat Letnan Frank Birch menjadi subjek dari semua kecemasan dan aktivitas ini, dia tampaknya mengalami saat-saat yang paling mudah saat ini. Lanakit melirik dari balik bahunya ke ruang di tumpukan karung beras yang telah mereka bersihkan agar dia bisa bernapas. Di sana, tanpa terlihat, orang Amerika itu pasti tertidur lelap di antara karung beras. Dia mampu melakukannya. Sammy tidak bisa menikmati kemewahan seperti itu, dan Lanakit memberinya dorongan lembut untuk membangunkannya. Sammy tersentak, melihat sekeliling dengan linglung sejenak, lalu menguap dan tersenyum.

"Perjalanan yang mudah," komentarnya sambil mengantuk. "Tidak ada orang Jepang... tidak ada yang menghentikan kita...". "Terlalu mudah, mungkin," komentar Lanakit. "kita sebaiknya waspada, Sammy. Lihat, kota itu ada di sana!"

Dia bisa melihat atap genteng yang berkilauan dan menara-menara Wat Pho, Wat Suthat, dan kuil-kuil Buddha megah lainnya yang berkilauan di kejauhan, air sungai yang disinari matahari. Di sana, pikirnya, Paman Chulong bersiap-siap untuk menyembunyikan buronan Amerika itu sebelum menyelundupkannya lebih jauh di sepanjang kanal dan keluar dari Bangkok setelah malam tiba. Dia dan Sammy berada di putaran akhir petualangan, pikir Lanakit dengan perasaan gembira bgercampur penyesalan. Dia gembira melakukan perjalanan itu, tetapi sekaligus merasa bersalah karena harus membohongi ayahnya. Dia tidak memberi tahu ayahnya mengapa dia ingin pergi bersama Sammy ke Bangkok. Dia berpikir bahwa perubahan suasana akan baik untuk gadis itu, dan mungkin membantunya mengatasi kebosanan karena terkurung di rumahnya di Pattaya. Kebaikannya membuat Lanakit merasa lebih buruk dari sebelumnya, dan untuk menenangkan hati nuraninya, dia diam-diam berjanji kepada dirinya sendiri untuk membawakan ayahnya salah satu seruling bambu indah yang dibuat oleh istri Paman Chulong, Bibi Shabiro, untuk dijual di Damnoen Saduak, pasar terapung.

Meski begitu, Lanakit tahu ayahnya akan sangat terkejut jika mengetahui risiko besar yang dialaminya bersama Pirom, dan Thalit di Pattaya kemarin sore.Tidak seorang pun dari mereka merasa sepenuhnya aman kemarin hingga mereka berada jauh dari tempat Sammy merencanakan kecelakaan itu. Namun, Lanakit merasa sangat lega karena semuanya berjalan dengan lancar.

Tonsan telah mengemudikan kereta itu ke rumah Sammy, dan Letnan Birch diselundupkan ke dalam. Kemudian, Tonsan berangkat ke Bangkok, sambil membawa beberapa karung sayuran di kereta itu agar terlihat seperti akan menjualnya di salah satu pasar di sana. Sebelum berangkat, Tonsan telah mengatur pertemuan dengan Sammy di jalan di luar Bangkok untuk memastikan bahwa Paman Chulong telah diberitahu.

Saat lembu jantan itu berjalan pelan di sepanjang jalan menuju kota dan gerobak beras bergoyang pelan di belakangnya, Lanakit mulai merasa gelisah ketika dia memikirkan tentang pengaturan itu. Sebentar lagi, mereka akan melihat gerobak Tonsan datang ke arah mereka dari arah yang berlawanan, tetapi entah bagaimana, Lanakit merasa bahwa itu tidak akan terjadi. Tidak ada seorang pun di sana, kecuali sekelompok biksu berjubah kunyit yang menundukkan kepala mereka yang dicukur untuk memberi salam saat mereka lewat, dan para pekerja di sawah yang mendongak sebentar dari balik topi lebarnya. Lanakit melirik Sammy ke samping dan bertemu dengan matanya yang khawatir. Mungkin sedang memikirkan hal yang sama: Tonsan tidak akan muncul. Tak satu pun dari mereka mengatakan apa pun.

Mereka terus melaju dalam diam selama beberapa menit, sampai Sammy tak tahan lagi. “Kuharap tak terjadi apa-apa padanya,” Lanakit mendengarnya berkata, “atau,” imbuhnya dengan nada takut, “atau pada Paman Chulong!”

Lanakit merasa dadanya sesak karena ketakutan. Akhirnya ia berhasil berkata. “Kita tak bisa hanya berkeliling Bangkok, Sammy! Orang Jepang pasti curiga – kau tahu bagaimana mereka mengawasi semua orang di sana! Dia mendengar Sammy mendesah. "Kita harus pergi ke Paman Chulong bahkan jika kita tidak melihat Tonsan!" gumamnya dengan suara serak.

Mereka tidak melihat Tonsan. Tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Saat mereka memasuki jalan-jalan Bangkok yang ramai, mereka melihat beberapa kereta datang, tetapi Tonsan tidak ada diantara mereka. Sammy sudah putus asa sekarang. Lanakit bisa melihatnya dari cara dia mencengkeram tali kekang sapi dengan jari-jari yang begitu erat sehingga kukunya seperti menggigit telapak tangannya. Lanakit duduk di sebelahnya, diam dan penuh dengan keraguan.

Mereka sampai di jalan yang membentang di samping sungai klong dan berjalan pelan di sepanjang jalan itu sampai mereka hampir sampai di rumah Paman Chulong. Hari mulai pagi di klong, seperti biasa, dan ada banyak orang di air yang mandi pagi dan mencuci rambut atau pakaian mereka. Rumah Paman Chulong tampak sunyi. Lanakit menenangkan diri dengan pikiran bahwa mereka mungkin ada di dalam atau di beranda.

Lanakit turun dari kereta dan berlari menyeberangi rerumputan ke tempat daun jendela bambu panjang yang melintang di ruang tamu Paman Chulong. Dia mengangkat sudut dan mengintip ke dalam. Tidak ada seorang pun di ruangan kecil di seberang rumah itu. Kemudian, dia mendengar langkah kaki dan suara. Dia berbalik dengan ketakutan, hanya untuk mendapati Paman Chulong berdiri di sana, wajah tuanya berkerut karena senyum.

"Lanakit, sayang! Senang sekali bertemu denganmu. Sungguh tak terduga!" Paman Chulong menghampirinya sambil mengulurkan tangan, jelas senang melihatnya di sana. "Jika kami tahu kamu akan datang, Shabiro pasti akan membuat cholburi kesukaanmu!"

Kalau saja Lanakit tidak begitu kaku karena khawatir, mulutnya pasti berair saat membayangkan hidangan nanas dan jamur yang lezat yang merupakan spesialisasi Bibi Shabiro. "Maksudmu kau tidak mengharapkan kami? Tonsan tidak memberitahumu bahwa kami punya..." Lanakit menoleh dengan sembunyi-sembunyi sebelum melanjutkan. "Kami punya 'tiga karung beras' untukmu?" Ketika mendengar itu, senyum di wajah Paman Chulong memudar. "Tonsan? Dia sudah lama tidak ke sini!"

Saat itu Bibi Shabiro muncul, bergegas menyambut Lanakit dengan tangan terentang. Senyumnya pun lenyap dari wajahnya ketika melihat ekspresi Lanakit yang khawatir. "Apakah kau melihat Tonsan, Istriku?" tanya Paman Chulong. "Tidak. Ada apa, Chulong?" Bibi Shabiro menarik napas, menyadari, seperti halnya suaminya, bahwa pasti ada yang tidak beres.

Tiba-tiba, Lanakit mendengar Sammy memanggilnya dengan suara yang tegang dan ketakutan. "Lanakit, kemarilah cepat!" Dia berbalik dan berlari kembali ke arah gerobak, dan saat dia melakukannya, suara kendaraan yang mendekat terdengar di telinganya. Lanakit melirik ke arah jalan ke arah jari Sammy yang menunjuk dengan gemetar. "Orang Jepang!" desahnya, sambil melirik wajah-wajah tegang di balik topi seragam mereka.

Lanakit dan Sammy saling bertukar pandang dengan panik. Mereka berdua memikirkan hal yang sama: Tonsan telah mengkhianati mereka! Dia telah mengkhianati saudaranya sendiri dan keluarganya! Kalau tidak, lalu apa yang dilakukan orang Jepang di sini?

Tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Lanakit berlari ke belakang kereta dan mulai menarik karung beras. Sammy turun dengan cepat untuk membantunya, dan dalam waktu sepuluh atau lima belas detik, mereka telah menyelamatkan Letnan Birch yang terkejut. Lanakit meraih pergelangan tangannya. "Jangan bertanya...ikuti aku, cepat!" Lanakit berbicara dengan mendesak, dan mengikuti tatapan mata Lanakit yang ketakutan. Frank Birch melihat ke belakangnya dan melihat orang Jepang yang mendekat dengan cepat. Mereka hanya berjarak dua ratus meter, cukup waktu untuk melompat dari kereta dan dengan kepala tertunduk bergegas ke rumah. Lanakit mendorong orang Amerika itu ke arah klong.

"Masuk ke dalam air, di bawah rumah!" teriaknya dan berlari cepat kembali ke Bibi Shabiro. Ada satu cara, satu peluang tipis, untuk menyelamatkan Frank Birch dari Jepang. Kalau saja itu berhasil. "Seruling bambu yang kau buat itu, adakah yang belum selesai dibuat Bi, yang belum ada lubang untuk dimainkan?" tanya Lanakit pada Shabiro. Bibi Shabiro mengangguk. "Ya, ada beberapa di antaranya..."

"Tolong, Bibi, tolong ambilkan satu...sekarang...cepat!"

Deru kendaraan Jepang semakin dekat saat Lanakit berbicara. Bibi Shabiro bergegas pergi dan segera kembali, sambil memegang salah satu serulingnya yang belum selesai. Lanakit menyambarnya tanpa berkata apa-apa, dan meluncur turun ke sisi klong, tempat Fank Birch sudah terbenam di dalam air setinggi pinggang. Dia mendorong tabung bambu itu ke arahnya.

“Orang Jepang itu akan mencari di mana-mana, di bawah rumah ini juga!" Lanakit terengah-engah. "Masuk ke bawah rumah. Kau bisa bernapas lewat seruling bambu ini!"

Orang Amerika itu langsung menurutinya. Tidak ada waktu untuk bertanya-tanya atau mempertanyakan apakah usulan Lanakit itu akan berhasil. Satu-satunya alternatif selain tenggelam adalah ditangkap oleh Jepang. Letnan itu menunduk di bawah air, dan Lanakit tinggal cukup lama untuk memastikan bahwa bagian atas pipa bambu berada di atas permukaan sebelum berlari kembali ke tempat berdiri di samping Paman Chulong saat mobil Jepang pertama datang memantul di atas rumput, dan berhenti beberapa meter jauhnya. Seorang perwira pendek dan gempal melangkah keluar, membusungkan dadanya dan berjalan dengan angkuh ke arah mereka. Tangan Lanakit merayap keluar dan menggenggam tangan Paman Chulong. Dia memegangnya erat dan meyakinkan. Itu membantu Lanakit untuk berusaha berhenti gemetar. Orang Jepang itu menatap Paman Chulong tanpa ekspresi dan membungkuk sebentar dan sopan.

"Saya Kapten Shiksa!" katanya dengan kasar. "Anda Longsan Chulong!"

Paman Chulong mengangguk, menatap lurus ke mata orang Jepang itu dengan penuh wibawa. Lanakit diliputi kekaguman atas ketenangannya. Pamannya tampak seolah-olah beberapa menit terakhir yang menegangkan itu tidak pernah terjadi.

"Kami telah diberi tahu bahwa Anda kedatangan orang yang tidak sah di tempat Anda," kata Kapten Shiksa dengan nada sok penting yang menurut Lanakit agak dipaksakan. Seolah-olah orang Jepang itu berbicara dengan enggan, seolah-olah dia tidak menyukai tugas yang harus dia lakukan. "Maaf, Tuan. Kami harus menggeledah rumah Anda!" Kapten Shiksa melanjutkan. Bibi Shabiro berteriak kecil karena khawatir. "Jangan takut, Nyonya," kata orang Jepang itu dengan sopan yang membuat Lanakit tercengang. "Anak buah saya diperintahkan untuk berhati-hati. Barang yang rusak akan diganti."

Lanakit hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia mengira orang-orang Jepang akan datang menyerbu ke dalam rumah dan membongkarnya secara praktis untuk mencari "orang yang melanggar hukum" yang mereka cari. Sebaliknya, mereka bersikap sopan dan penuh perhatian, tetapi mereka sangat teliti. Kapten Shiksa dan anak buahnya memeriksa setiap ruangan dengan saksama, melihat ke balik setiap tirai, memeriksa setiap lemari, kursi, tempat tidur, meja, dan semua perabotan lainnya untuk mencari tanda-tanda yang mencurigakan. Seperti yang telah diramalkan Lanakit, mereka memeriksa bagian bawah rumah, dan bahkan memerikasa tiang-tiang penyangga tempat gerobak Sammy berdiri, setengah di dalam, setengah di luar klong, tetapi alih-alih menusukkan bayonet ke karung beras, seperti yang dipikirkan Lanakit, dan menumpahkan isinya ke rumput, tentara Jepang meraba dan meremasnya dengan sangat hati-hati. Akhirnya, semuanya berakhir dan, seperti yang telah ia mulai, Kapten Shiksa membungkuk dengan sopan kepada Paman Chulong sebelum ia pergi.

"Mohon maaf," gumam sang Kapten. "Tetapi Anda mengerti, kita tidak dapat mengabaikan tugas kita, bahkan jika..." Shiksa melirik ke belakangnya untuk melihat bahwa anak buahnya tidak berada dalam jarak pendengaran, dan mendekat sedikit kepada Paman Chulong. "Bahkan jika kita tahu informasi itu salah, diberikan karena dendam atau untuk membalas dendam lama!" Kapten Shiksa merendahkan suaranya menjadi nada rahasia. "Pemuda yang memberi tahu kita bahwa Anda menyembunyikan seorang buronan," katanya. "Saya tidak memercayainya, Oh, ya, ia berpura-pura bertindak demi kepentingan persahabatan antara kedua bangsa kita, tetapi saya pikir ia benar-benar mencoba untuk menjilat komandan kita. Mungkin ia menginginkan monopoli atas penjualan sayur-sayurannya."

Lanakit melihat wajah Paman Chulong menegang karena sedih. Penjual sayur itu mungkin Tonsan. Untungnya, Kapten Shiksa tidak menyadari perubahan ekspresi itu. Ia hanya membungkuk dengan sangat formal kepada Paman Chulong dan Bibi Shabiro, mengangguk kepada Lanakit dan Sammy, dan sekali lagi mengungkapkan penyesalannya, melangkah ke mobilnya dan pergi.

Terjadi keheningan yang mengerikan selama beberapa saat setelah suara kendaraan Jepang menghilang. Kemudian, Paman Chulong mendesah dalam-dalam. Lanakit melihat ada air mata di matanya. "Shabiro," katanya kepada istrinya. "Aku tidak akan membiarkan nama Tonsan disebut di rumah ini lagi. Dia tidak boleh datang ke sini, atau menerima apa pun dari kita. Dia bukan salah satu keluarga kita lagi." Bibi Shabiro mengangguk. Dia menangis pelan, dan Sammy juga menangis karena malu dan tertekan.

***

Paman Chulong menoleh ke Lanakit, dan menatapnya dengan pandangan ingin tahu. "Kau mengira mereka biadab, bukan, Lanakit?" kata Paman Chulong. Lanakit mengangguk. "Yah, kau lihat mereka tidak semuanya biadab, meskipun mereka penjajah. Orang Jepang bisa menjadi orang yang berbudaya dan berselera tinggi. Hanya karena mereka adalah musuh kita, kita tidak boleh menganggap mereka biadab atau barbar. Dan mereka tidak menyukai pengkhianat seperti kita!" Paman Chulong menyelesaikan, suaranya bergetar. "Tapi ayolah," lanjutnya, memaksa dirinya untuk terlihat lebih ceria. "Kita harus mengurus 'tiga karung beras'...kita harus melakukan banyak pekerjaan!"

***

Lanakit menggantungkan kerang terakhir pada kalung itu, dan mengangkatnya di depannya. "Indah sekali, Lanakit!" kata Thalit, yang sedang memperhatikan. "Yang terindah yang pernah kau buat." Itu memang kalung yang indah, sekumpulan kerang putih keriting dengan sedikit koral berwarna dan tersembunyi dengan baik, tetapi terlihat oleh Lanakit, pin hiasan kecil yang diberikan Letnan Birch sebelum ia meninggalkan rumah Paman Chulong menuju kebebasan.

***

"Di Amerika, hanya gadis-gadis yang sangat istimewa yang diberi pin seperti ini." Kata Frank Birch kepada Lanakit. "Dan kau gadis yang sangat istimewa, nona kecil!"

Lanakit mengenakan kalung itu di lehernya. Kalung itu masih baru, tetapi sudah begitu banyak kenangan yang terikat padanya. Kenangan lega saat mengetahui bahwa Frank Birch selamat dari cobaan beratnya saat ia diseret keluar dalam keadaan basah kuyup, tergagap, dan tertutupi oleh jalinan alang-alang. Kenangan sedih juga, tentang Tonsan, yang pasti telah merencanakan pengkhianatannya selama ini, sementara ia menunggu waktu untuk memanfaatkannya demi menjilat komandan Jepang di Bangkok. Tonsan belum kembali ke Pattaya dan tidak seorang pun tahu di mana ia berada. Ia mungkin tidak akan pernah berani menunjukkan wajahnya yang penuh pengkhianatan di sana lagi. Sammy, yang sangat malu, tidak pernah tersenyum sejak saat itu.

Kenangan itu juga merupakan kenangan yang memalukan. Ketika Lanakit mengakui segala perbuatannya kepada ayahnya, dia tidak tahu apakah harus memeluk dan menciumnya untuk keberaniannya atau menghukumnya karena menipunya.

Pin Frank Birch berkedip dan berkilauan padanya dari buih kerang kecil. Thalit datang dan memerhatiakannya dengan kagum. "Kamu bisa mendapatkan harga yang bagus untuk itu di Naglue," kata Thalit dengan antusias. “Sammy bisa menjualkannya dengan harga yang sangat mahal!"

"Oh, tidak!" Lanakit tersenyum padanya. "Aku tidak akan pernah menjualnya. Yang ini, akan kusimpan selamanya!"

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemurah yang Bodoh

Diceritakan kembali oleh Abdul Rahman Saleh  Dahulu kala, hiduplah seorang penambang garam bersama istrinya. Mereka tinggal cukup jauh dari ...