Minggu, 07 Juni 2026

Gelombang Kejahatan

Fielden Hughes - Disadur oleh: Abdul Rahman Saleh


“Masuk!”

Kepala sekolah menjawab ketukan kecil di pintu ruang kerjanya.

Pintu terbuka. Pak Snooks, guru Bahasa Inggris yang juga wali kelas Bill Holmes, masuk sambil membawa beberapa buku di tangannya.

“Bapak memanggil saya?” tanyanya.

Kepala sekolah yang wajahnya tampak tegang menunjuk kursi di depan meja.

“Ya. Duduklah dulu.”

Pak Snooks pun duduk. Sementara itu kepala sekolah malah bangkit, mengambil pipa dari sakunya, lalu mulai mondar-mandir di ruangan.

Pak Snooks diam saja, meski sebenarnya ia agak kesal melihat kebiasaan itu. Menurutnya, melihat kepala sekolah berjalan bolak-balik seperti itu rasanya seperti menonton pertandingan tenis yang membosankan. Kalau memang ingin berjalan-jalan, kenapa tidak sekalian mengajak orang lain ikut berjalan?

Tapi tentu saja ia tidak mengatakannya.

“Ada beberapa kasus pencurian kecil di sekolah,” kata kepala sekolah sambil berhenti di dekat jendela.

Pak Snooks mengangkat alis.

“Wah… itu merepotkan.”

Bagi orang lain jawaban itu mungkin terdengar biasa saja. Tapi bagi kepala sekolah, tidak ada kata yang lebih tepat selain merepotkan. Ia memang paling benci urusan seperti ini.

“Betul,” katanya sambil kembali berjalan. “Kasus seperti ini sulit dilacak. Sedikit-sedikit bisa bikin semua orang saling curiga. Kalau tidak cepat dihentikan, biasanya malah makin menjadi-jadi.”

“Yang hilang apa saja?” tanya Pak Snooks.

Kepala sekolah kembali ke mejanya, membuka laci, lalu mulai mengisi pipanya.

“Macam-macam. Uang, barang kecil, benda milik murid.” Ia berhenti sejenak. “Dan itulah alasan saya memanggilmu. Hampir semua laporan kehilangan berasal dari murid di kelasmu.”

Pak Snooks langsung menegakkan badan.

“Tidak ada yang melapor pada saya.”

“Memang tidak,” jawab kepala sekolah. “Kau ingat kejadian beberapa waktu lalu? Sejak itu saya meminta semua laporan kehilangan disampaikan langsung kepada saya. Jangan terlalu banyak dibicarakan. Semakin sedikit yang tahu, semakin mudah menangkap pelakunya.”

“Kalau memang ada pelakunya,” kata Pak Snooks.

Kepala sekolah mengangguk pelan.

“Kadang anak-anak memang ceroboh. Barang sendiri hilang lalu lupa menaruh di mana.”

Pak Snooks mendengus kecil. Ia sangat tahu bagaimana murid-murid bisa sembarangan meletakkan barang.

“Tapi untuk kali ini berbeda?” tanyanya.

“Jumlahnya terlalu banyak. Dan polanya mirip.”

“Sudah berapa laporan?”

“Delapan dalam tiga hari. Enam di antaranya dari kelasmu.”

Pak Snooks terdiam sesaat.

“Jadi Bapak curiga pencurinya murid kelas saya?”

Kepala sekolah mengangkat bahu.

“Setidaknya kemungkinan itu ada.”

Ia lalu menyerahkan secarik kertas.

“Ini daftar murid yang kehilangan barang.”

Pak Snooks membaca cepat daftar itu. Tiba-tiba jarinya berhenti di satu nama.

“Carfax?” katanya sambil mendecakkan lidah. “Anak itu lagi?”

“Ada apa dengan Carfax?”

“Dia bilang album perangkonya hilang?”

“Ya.”

Pak Snooks hampir tertawa.

“Album itu ada di meja saya sekarang. Saya sita dua hari lalu karena dia malah sibuk melihat-lihat perangko saat pelajaran.”

Kepala sekolah tampak kaget.

“Jadi dia menuduhmu mencurinya?”

“Bukan begitu,” kata Pak Snooks cepat. “Carfax itu pelupa luar biasa. Kalau barangnya tidak ada di tangannya, dia langsung merasa barang itu hilang.”

Kepala sekolah menekan bel di meja.

“Panggil Carfax.”

Tak lama kemudian seorang anak tinggi berambut keriting masuk dengan wajah bingung tapi ramah.

“Carfax,” kata kepala sekolah.

“Ya, Pak?”

“Kamu melapor bahwa album perangkomu dicuri?”

“Iya, Pak.”

“Kapan terakhir kamu melihat album itu?”

Carfax langsung berpikir keras. Ia tampak begitu serius sampai dahinya berkerut.

“Saya ingat Minggu malam masih ada, Pak. Soalnya saya baru memasang perangko baru gambar Gunung Kilimanjaro—”

“Kapan terakhir kamu MEMEGANG album itu?” potong kepala sekolah tegas.

“Minggu malam, Pak.”

“Kalau begitu tidak mungkin hilang di sekolah.”

“Oh iya…” Carfax menggaruk kepala. “Eh, tapi hari Senin saya bawa ke sekolah, Pak.”

“Nah. Lalu?”

“Saya menunjukkan ke Williams…”

Suara Carfax mendadak mengecil.

Sekarang ia teringat semuanya.

Wajahnya langsung merah.

“Itu… disita Pak Snooks, ya Pak?”

“Benar sekali,” kata kepala sekolah datar.

Carfax nyengir malu.

“Saya baru ingat, Pak.”

Pak Snooks melipat tangan sambil menatapnya tajam, seolah berkata: Nah kan. Dasar anak pelupa.

“Kamu kok diam sekali, Bill,” kata ibunya ketika mereka sedang minum teh sore bersama.

“Ah, masa?” jawab Bill cepat, seperti baru tersadar.

“Iya. Dari tadi kamu hampir tidak bicara sama sekali. Kamu sakit?”

“Enggak kok, Bu. Aku baik-baik saja.”

Ibunya memperhatikan wajah Bill lebih teliti.

“Ada masalah di sekolah?”

Bill langsung menghela napas kecil.

“Bu, jangan khawatir terus,” katanya. “Serius, enggak ada apa-apa. Kalau memang ada masalah, nanti juga Bill cerita.”

Seperti kebanyakan ibu lainnya, Nyonya Holmes tahu kapan harus berhenti bertanya. Akhirnya ia memilih mengalah.

“Mungkin kamu cuma capek,” katanya lembut. “Habis minum teh, mandi air hangat sana. Terus tidur lebih cepat malam ini.”

Tapi itu justru bertolak belakang dengan rencana Bill.

Ia menggeleng pelan.

“Bill benar-benar enggak apa-apa, Bu,” katanya sambil mencoba terdengar ceria. “Bill cuma lagi mikirin sesuatu… dan rasanya hampir ketemu jawabannya.”

Sayangnya, Bill sendiri tidak terlalu yakin dengan kata-katanya.

Dalam hati ia berharap benar-benar bisa menemukan jalan keluar sebelum besok pagi pukul sembilan. Kalau tidak, urusannya pasti bakal jadi kacau.

Begitu selesai minum teh, Bill segera mengambil topinya.

“Mau ke mana lagi malam-malam begini?” tanya ibunya.

“Cuma jalan sebentar, Bu.”

“Nah, bagus itu. Biar pikiranmu segar.”

“Untung saja,” pikir Bill dalam hati. Ia sayang sekali pada ibunya, tetapi kadang-kadang ia memang ingin dibiarkan sendiri. Dan malam ini adalah salah satu saat itu.

Bill berjalan cepat menuju rumah pendeta, tempat sahabatnya, Tony, tinggal. Sesampainya di dekat pagar taman, ia bersandar pada pohon besar di pinggir jalan. Lalu, dengan jari di bibir, ia meniup siulan panjang melengking—kode rahasia mereka sejak lama.

Tak lama kemudian jendela kamar Tony terbuka. Sebuah tangan melambai singkat, lalu jendelanya tertutup lagi.

Satu menit kemudian Tony sudah muncul di jalan.

“Kamu kelihatan kusut,” katanya sambil menatap Bill.

“Ayo jalan dulu,” kata Bill. “Aku lagi banyak pikiran.”

Tony mengangguk.

“Kelihatan banget. Ada kasus sulit lagi?”

Bill menoleh padanya.

“Dengar baik-baik,” katanya serius. “Dan jangan potong dulu sebelum aku selesai cerita.”

Tony langsung diam.

Mereka berjalan pelan menyusuri jalan yang mulai sepi, sementara Bill menceritakan semuanya—tentang pulpen Pak Snooks yang hilang, meja yang tiba-tiba berisi pulpen itu, dan tuduhan yang kini mengarah kepadanya.

Semakin lama Tony mendengar, wajahnya semakin serius.

“Wah, Bill,” kata Tony akhirnya, “jujur saja… keadaanmu memang kelihatan gawat.”

“Terima kasih banyak,” jawab Bill muram. “Sebentar lagi pasti kamu juga tanya apa aku benar-benar enggak nyolong pulpen itu.”

Tony langsung menggeleng kuat-kuat.

“Oi, tentu saja enggak! Aku percaya sama kamu. Tapi ya… kamu juga harus ngerti. Dari sudut pandang kepala sekolahmu, semuanya memang kelihatan mencurigakan.”

Setelah itu Tony terdiam.

Mereka terus berjalan sementara Tony tampak berpikir keras. Bill membiarkannya saja. Kepalanya sendiri sudah cukup penuh.

Tiba-tiba Tony menarik lengan Bill sampai mereka berhenti tepat di bawah lampu jalan.

“Nah!” katanya bersemangat.

Ia mengangkat tangan dan mulai menghitung dengan jari seperti detektif sungguhan.

“Kita urutkan dulu. Ada seseorang yang sengaja menaruh pulpen itu di mejamu. Pertanyaannya: kenapa?”

“Mana aku tahu,” jawab Bill lesu.

Tony menyipitkan mata.

“Kamu punya musuh?”

“Enggak.”

“Kalau begitu jelas!” kata Tony cepat. “Pencuri yang asli sengaja mengalihkan perhatian. Dia bikin kamu jadi kambing hitam supaya semua orang menuduhmu.”

Tony tampak puas sekali dengan kesimpulannya sendiri.

“Nah,” lanjutnya sambil menepuk bahu Bill, “berarti yang harus kita lakukan sekarang adalah—”

Kalimatnya terputus begitu saja.

Tiba-tiba ia berhenti bicara, seolah sebuah ide baru saja muncul di kepalanya.

“Lalu?” tanya Bill. “Jadi aku harus bagaimana?”

Tony menggaruk kepala.

“Hmm… sebenarnya aku juga belum terlalu tahu.” Ia nyengir malu. “Tadi aku mau bilang kamu tinggal cari siapa pencuri barang-barang lainnya. Tapi ya… justru itu masalahnya, kan?”

“Betul,” kata Bill lesu.

Tony meliriknya hati-hati.

“Aku boleh tanya sesuatu?”

“Tanya saja,” jawab Bill. “Tapi sambil jalan, ya.”

“Oke.” Tony mengangguk cepat. “Menurutmu Carfax mungkin enggak yang naruh pulpen itu di mejamu?”

“Enggak.”

“Kalau barang-barang lain? Mungkin dia yang ngambil?”

Bill mengangkat bahu.

“Aku enggak tahu.”

Tony kembali berpikir.

“Bisa jadi pelakunya orang dewasa? Bukan murid?”

Bill menggeleng.

Tony langsung berbicara dengan nada sok serius, seperti detektif terkenal.

“Dalam kasus seperti ini,” katanya, “kita harus mencurigai semua orang dulu, baru menyingkirkan satu per satu.”

Kalimat itu sebenarnya hasil meniru ucapan Bill sendiri pada kasus-kasus sebelumnya, dan Tony tampak bangga bisa mengatakannya.

“Memangnya ada orang dewasa yang bisa keluar-masuk ruangan itu?” tanyanya penuh harap.

Namun Bill tidak menjawab.

Ia malah terus berjalan sambil menunduk.

“Bill!” seru Tony.

Bill tersentak.

“Pertanyaanku tadi apa?”

Bill berkedip bingung.

“Maaf… aku enggak dengar.”

Tony berhenti berjalan lalu menggeleng sedih, pura-pura kecewa.

“Aku memang bukan detektif sehebat kamu,” katanya dramatis, “tapi setidaknya aku pantas didengarkan kalau lagi membantu.”

Bill akhirnya tersenyum kecil.

“Maaf, Tony. Pikiranku ke mana-mana.”

“Ya sudahlah,” kata Tony cepat. “Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku juga bakal panik.”

Ia berhenti sebentar lalu menatap Bill serius.

“Tapi aku bisa memastikan satu hal.”

“Apa itu?” tanya Bill.

“Detektif hebat kita sedang payah hari ini,” kata Tony tiba-tiba.

Bill melirik kesal.

“Kenapa begitu?”

“Karena kali ini kamu sendiri yang jadi tersangkanya.” Tony menunjuk Bill dengan gaya bijak. “Kalau yang kena masalah orang lain, aku yakin sekarang kamu sudah hampir menemukan jawabannya.”

“Bisa jadi,” gumam Bill.

Beberapa saat kemudian Tony baru sadar arah mereka.

“Eh, kita mau ke mana sebenarnya?”

“Ke tempat kejadian perkara,” jawab Bill. Kali ini suaranya terdengar sedikit lebih bersemangat. “Kalau kamu mau membantuku memecahkan kasus ini, kamu harus lihat sendiri tempatnya.”

Tony melirik jalan menuju sekolah Bill yang sudah tampak di depan.

“Ya sih… tapi kita enggak mungkin bisa masuk malam-malam begini.”

“Pasti masih ada orang di sana,” kata Bill santai. “Kalau perlu kita panjat pagar.”

Tony mendelik.

“Wah, itu pasti sangat membantu kalau kita sampai ketahuan.”

“Keadaanku memang sudah buruk,” jawab Bill. “Tambah sedikit juga enggak akan beda jauh.”

Mereka pun tiba di sekolah.

Ternyata gerbang utama masih terbuka.

Keduanya berjalan cepat melintasi halaman sekolah. Mereka hampir sampai di pintu masuk murid laki-laki ketika tiba-tiba terdengar suara keras menggelegar.

“Hei!”

Bill dan Tony langsung berhenti.

Sesosok pria besar berjalan menghampiri mereka dengan langkah agak pincang. Itu Charles Wintney, penjaga sekolah.

Tubuhnya tinggi besar, memakai baju kerja lusuh, dan salah satu kakinya palsu. Anak-anak diam-diam menjulukinya “Hoppy Wintney”, meskipun tak ada yang berani memanggil begitu di depannya.

“Selamat malam, Pak Wintney,” sapa Bill sopan.

Namun penjaga sekolah itu tidak membalas sapaan. Ia menatap mereka dengan mata biru tajam penuh curiga—tatapan yang terbentuk setelah bertahun-tahun menghadapi murid-murid usil.

“Kalian mau apa di sini?” tanyanya.

Bill cepat menjawab.

“Maaf mengganggu, Pak. Saya tadi meninggalkan sesuatu di meja saya.” Ia berhenti sebentar. “Barang penting.”

“Tenang saja,” kata Hoppy. “Apa pun barangmu itu bakal aman. Sekolah ini bukan pasar malam.” Ia menunjuk pintu belakang dengan dagunya. “Aku cuma mau mengunci gedung sekarang. Dan satu hal yang pasti: aku tidak akan naik-turun tangga lagi malam ini. Bahkan kalau kau bilang jantungmu tertinggal di meja sekalipun.”

“Oh, ayolah, Pak Wintney,” kata Bill memohon. “Saya belum pernah merepotkan Bapak sebelumnya. Ini benar-benar penting.”

Hoppy menyipitkan mata. Ada kilatan licik di wajahnya.

“Memangnya barang apa,” tanyanya lambat-lambat, “yang begitu penting sampai seorang anak rela balik ke sekolah malam-malam?”

Tony langsung ikut campur.

Ia menggoyang-goyangkan uang receh di sakunya, lalu mengeluarkan sekeping uang sepuluh pence.

“Itu buku PR-nya, Pak Wintney,” katanya cepat sambil menyodorkan uang itu sedikit. “Saya yakin Bapak orang baik dan mau membantu kami.”

Tatapan curiga Hoppy langsung berpindah ke Tony.

“Kalau begitu, kamu siapa?” tanya Hoppy sambil memicingkan mata ke arah Tony. “Bukan murid sini, kan? Sama sekali enggak ada urusan dengan sekolah ini?”

“Bukan,” jawab Tony santai. “Saya cuma teman keluarga.”

“Oh…” gumam Hoppy. “Teman keluarga.”

Diam-diam Tony menyelipkan uang sepuluh pence itu ke tangan penjaga sekolah. Hoppy langsung menggenggamnya tanpa banyak bicara lalu memasukkannya cepat-cepat ke saku bajunya.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Sebenarnya ini melanggar aturan. Tapi karena katanya penting sekali, kalian boleh masuk.” Ia menunjuk mereka dengan gagang sapunya. “Tapi aku ikut. Dan aku akan tetap mengawasi kalian.”

Walaupun sudah menerima uang, Hoppy rupanya tetap tidak sepenuhnya percaya pada anak-anak.

Tak lama kemudian mereka sudah berada di ruang kelas yang remang-remang dan sunyi. Dalam cahaya sore yang mulai redup, ruangan itu terasa agak aneh dan menyeramkan.

Bill berjalan ke mejanya lalu membuka tutupnya perlahan.

Tony ikut mengintip dari belakang bahunya, sementara Hoppy berdiri sambil bersandar pada sapu.

Beberapa detik kemudian Hoppy mendengus kecil.

“Enggak ada, kan?” katanya puas. “Aku juga sudah menduga begitu. Mungkin barangmu tertinggal di toko atau di rumah.” Ia menepuk sapunya ke lantai. “Sudah, ayo keluar. Aku harus segera mengunci sekolah. Kalau ada orang melihat kalian di sini malam-malam, bisa repot.”

Mereka pun turun kembali lewat tangga.

Anehnya, sekarang Hoppy tampak jauh lebih ramah.

“Lain kali hati-hati sama barang sendiri,” katanya pada Bill. “Kalau PR-mu hilang, ya bikin lagi. Biar kapok.”

Begitu sampai di halaman sekolah, ia menoleh ke arah Tony.

“Anak-anak seusia kalian memang pelupa semua,” katanya. “Temanmu ini bahkan bukan yang pertama malam ini.”

Bill langsung menoleh cepat.

“Maksud Bapak?” tanyanya, berusaha terdengar biasa saja.

“Tadi ada anak lain datang sekitar setengah jam sebelum kalian,” jawab Hoppy. “Katanya mau mengambil barang yang tertinggal sejak sore.”

Jantung Bill langsung berdegup lebih cepat.

“Siapa?” tanyanya cepat.

Hoppy menggaruk dagunya.

“Kalau tidak salah… anak dari kelasmu juga.” Ia berpikir sejenak. “Tinggi, rambutnya lebat, dan mukanya selalu kelihatan ceria.”

Bill dan Tony saling berpandangan.

Mereka langsung tahu siapa yang dimaksud.

“Carfax?” seru Bill.

“Iya,” jawab Hoppy. “Aku sempat tanya namanya. Dia bilang namanya Carfax.”

Tony langsung tertawa kecil, seperti orang yang baru mendengar tingkah bodoh seorang anak. Tawanya terdengar agak dipaksakan, tetapi Hoppy tampaknya tidak menyadarinya.

“Dia bilang mau mengambil apa?” tanya Tony.

Bill diam saja, menunggu jawaban itu dengan tegang.

“Perangko luar negeri,” jawab Hoppy. “Katanya mahal sekali.”

Bill dan Tony saling melirik cepat.

“Bapak membiarkannya mengambil perangkonya?” tanya Bill.

“Tidak,” jawab Hoppy tegas. “Barang itu tetap di tempat sampai besok pagi.” Ia melambaikan tangan mengusir mereka. “Sekarang sana pergi. Cari buku PR kalian di tempat lain.”

Begitu mereka keluar dari gerbang sekolah, Bill langsung menoleh pada Tony.

“Nah?” katanya.

“Nah?” balas Tony sambil mengangkat alis.

“Kita harus menemui Carfax.”

“Sekarang juga?”

Bill menatapnya serius.

“Aku cuma punya waktu sampai besok jam sembilan pagi.”

Tony meniup napas panjang.

“Wah… kamu benar-benar sedang memburu waktu.”

“Hampir begitu,” kata Bill. “Ayo.”

“Carfax tinggal di mana?”

“Dekat dari sini.”

Mereka pun mempercepat langkah.

“Menurutku semuanya sudah jelas,” kata Tony sambil berjalan cepat.

“Apa yang jelas?”

“Carfax pasti yang mengambil pulpen itu lalu menyelipkannya ke mejamu.” Tony mulai bersemangat dengan teorinya sendiri. “Setelah keadaan aman, dia kembali ke sekolah untuk mengambil barang-barang yang disembunyikannya. Tapi si penjaga galak itu menggagalkan rencananya.”

Tony menyeringai puas.

“Besok pagi Carfax pasti kaget waktu tahu pulpennya sudah enggak ada.”

Bill tetap terlihat murung.

“Seseorang memang bakal kaget besok pagi,” katanya pelan. “Aku cuma berharap aku seyakin kamu tentang siapa orangnya.”

Tony menepuk pundaknya.

“Kalau begitu kita harus membuktikannya, Holmes.” Ia menunjuk Bill dramatis. “Antara kamu… atau Carfax.”

Bill menatapnya sekilas.

“Kamu benar-benar yakin begitu?”

“Tentu saja,” jawab Tony. “Kamu harus bisa membuktikan kalau Carfax yang salah. Kalau enggak, kamu yang bakal kena hukuman untuk sesuatu yang bahkan tidak kamu lakukan.”

Bill masih tampak berpikir keras.

“Menurutmu bagaimana Carfax bisa memasukkan pulpen itu ke mejaku?”

Tony langsung menjawab cepat.

“Mudah sekali. Di bagian depan meja sekolahmu itu ada celah besar, kan?”

“Itu tempat buat masukin atlas,” kata Bill.

“Nah!” seru Tony sambil menunjuknya. “Lewat situ dia memasukkan pulpen itu.”

“Bisa jadi,” gumam Bill.

Ia lalu berhenti berjalan.

“Nah, ini rumah Carfax.”

Mereka berdiri di depan sebuah rumah besar dari bata merah, berjajar dengan rumah-rumah lain yang bentuknya hampir sama.

Bill baru saja hendak naik ke tangga batu dan menekan bel ketika Tony buru-buru menarik lengannya.

“Tunggu dulu.”

“Apalagi?”

“Kita harus bikin rencana,” kata Tony serius, seolah mereka agen rahasia.

“Rencana apa?”

“Kalau Carfax membuka pintu, kamu mau bilang apa?”

Bill menghela napas.

“Aku belum tahu.”

Tony melirik jam tangannya dengan gaya penting.

“Kita cuma punya malam ini buat memecahkan kasus ini,” katanya. “Sebaiknya kamu cepat dapat ide.”

“Aku setuju sekali,” jawab Bill. “Tapi karena waktunya sedikit, mungkin ide terbaik sekarang adalah mulai dengan membunyikan bel.”

“Tunggu,” kata Tony lagi. “Biar aku yang urus.”

Bill menatapnya heran.

“Aku sudah mulai memahami kasus ini,” lanjut Tony bangga. “Dan malam ini aku bahkan berhasil menaklukkan Hoppy.”

Bill akhirnya tersenyum tipis.

“Memang sih, dia lumayan suka sama kamu.” Ia mundur selangkah. “Baiklah. Silakan, Tuan Detektif.”

Tony naik ke tangga rumah dengan penuh percaya diri lalu mengangkat tangan ke arah bel.

Tapi tepat sebelum menekannya, ia berhenti lagi.

“Nama depannya siapa?” tanyanya sambil menoleh.

“Harry,” jawab Bill.

Tony akhirnya menekan bel rumah itu dan menunggu.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang wanita gemuk berwajah ramah muncul.

“Selamat malam,” katanya sambil tersenyum pada Tony.

“Selamat malam,” jawab Tony sopan, membalas senyum itu. “Apa Harry Carfax ada di rumah?”

“Oh, tidak,” jawab wanita itu. “Dia sedang keluar.” Ia memandang Tony penuh rasa ingin tahu. “Siapa ya yang mencarinya?”

Tony refleks menoleh ke belakang untuk meminta bantuan Bill.

Tapi Bill menghilang.

Benar-benar lenyap begitu saja.

Tony berkedip panik sesaat.

“Begini… saya…” Ia berhenti sambil melirik lagi ke belakang untuk memastikan Bill memang kabur. Dan benar saja—temannya itu sudah tidak ada di sana. “Saya cuma mau menyampaikan pesan kecil. Enggak penting kok.”

“Siapa nama kamu?” tanya wanita itu ramah.

Dialah Nyonya Carfax, ibu Harry. Ia tersenyum terus-menerus pada Tony dengan cara yang membuat Tony merasa seperti sedang dianggap anak aneh yang tidak berbahaya.

Dan Tony tidak suka itu.

“Oh, Harry pasti enggak kenal saya,” katanya cepat. “Pesannya cuma titipan teman.”

“Begitu ya?” kata Nyonya Carfax sambil tersenyum makin lebar. “Siapa nama temannya?”

“Eh… Holmes,” jawab Tony setelah berpikir sepersekian detik. “Teman sekolahnya.”

“Kalau begitu sampaikan saja pesannya pada saya,” kata Nyonya Carfax. “Nanti saya teruskan saat Harry pulang.”

Tony mulai gelisah. Ia ingin segera pergi mencari Bill.

“Oh, enggak usah repot-repot, Bu. Pesannya enggak penting.”

“Tidak apa-apa,” kata Nyonya Carfax ramah sekali. “Coba bilang saja.”

Tony menyerah.

“Ah… pesannya juga masih bisa disampaikan besok pagi,” katanya putus asa.

Lalu ia cepat-cepat membungkuk kecil.

“Selamat malam!”

“Selamat malam,” jawab Nyonya Carfax sambil menutup pintu.

Begitu pintu tertutup, Tony langsung melihat ke kiri dan kanan jalan.

Dan di ujung tikungan, ia melihat Bill sedang berbicara dengan seorang anak laki-laki lain.

Tony langsung berjalan cepat menghampiri mereka dengan wajah kesal.

“Bill!” serunya setengah berbisik. “Itu enggak sportif namanya. Kamu pergi begitu saja!”

Bill tampak bersalah.

“Untung saja anak itu memang lagi di luar rumah,” lanjut Tony. “Kalau dia ternyata ada di dalam, aku pasti sudah kelihatan seperti orang bodoh di depan ibunya!”

“Maaf tadi aku pergi begitu saja, Tony,” kata Bill. “Tapi aku tahu Harry memang tidak ada di rumah.”

Tony langsung menatapnya.

“Kamu tahu?” katanya heran. “Dari mana?”

“Karena tepat waktu kamu menekan bel, aku melihat dia datang dari ujung jalan.”

Bill lalu menoleh pada anak laki-laki di sampingnya.

“Harry, kenalkan. Ini temanku, Tony Harries.” Ia lalu menoleh ke Tony. “Tony, ini Harry Carfax.”

“Oh… ya…” Tony menatap anak jangkung berambut lebat itu beberapa detik. “Halo.”

Harry Carfax tersenyum ramah dan mengangguk kecil.

“Halo.”

“Bagaimana kalau kita jalan sebentar?” usul Bill.

“Boleh,” jawab Harry cepat. “Ide bagus.”

Mereka bertiga pun mulai berjalan menyusuri jalanan malam.

Bill dan Harry tampak mengobrol santai seperti biasa, sementara Tony berjalan di samping mereka dengan perasaan bingung setengah mati.

Kapan Bill akan mulai menuduh anak ini? pikirnya.

Bukankah mereka datang untuk menyelidiki?

Tony melirik jam tangannya.

Waktu terus berjalan, sementara belum ada satu pun hal penting yang terungkap.

Sementara itu Bill dan Harry malah asyik membicarakan sekolah—tentang olahraga renang, sepak bola, dan pertandingan antar kelas. Harry sendiri sebenarnya tampak tidak terlalu tertarik pada olahraga, tetapi ia punya sifat yang menyenangkan: ia selalu berusaha ikut antusias kalau teman-temannya sedang bersemangat.

Ketika pembicaraan beralih ke guru-guru di sekolah, Harry mulai melontarkan komentar-komentar lucu yang membuat Bill beberapa kali tertawa.

Tony diam saja.

Semakin lama ia semakin bingung.

Harry Carfax terlihat terlalu ramah untuk dianggap pencuri. Sulit membayangkan anak seperti itu sengaja menjebak Bill.

Tapi di sisi lain, semua petunjuk seolah mengarah kepadanya.

Dan kalau Bill tidak segera menemukan jawabannya, besok pagi ia bisa benar-benar berada dalam masalah besar.

Tony kembali melirik jam tangannya, lalu menyikut Bill pelan.

“Aduh!” seru Bill. “Sakit tahu, Tony. Apa sih?”

“Waktu kita tinggal sedikit,” kata Tony serius. “Masih banyak yang harus kita cari tahu.”

“Santai saja,” jawab Bill. “Kamu enggak buru-buru pulang, kan?”

“Tidak,” kata Tony dengan nada penuh arti. “Aku sama sekali tidak buru-buru.”

Bill menahan senyum kecil lalu menoleh pada Harry.

“Harry,” katanya santai, “tadi sore sebenarnya Pak Snooks ngomel apa sih sampai lama begitu?”

Harry langsung tersenyum lebar, seolah baru diingatkan pada kejadian lucu.

“Wah, kalian pasti ketawa kalau dengar ceritanya,” katanya.

Lalu ia mulai bercerita tentang album perangkonya yang disita Pak Snooks, laporannya pada kepala sekolah, sampai bagaimana ia baru sadar bahwa albumnya ternyata memang ada di meja Pak Snooks selama ini.

Bill dan Tony mendengarkan dengan serius.

Begitu Harry selesai, Bill akhirnya mulai masuk ke pertanyaan penting.

“Kami dengar kamu sempat balik lagi ke sekolah malam ini,” katanya hati-hati. “Kamu mau mengambil album itu lagi?”

Harry tampak heran karena pertanyaan itu, tetapi sama sekali tidak marah.

“Ya ampun, tentu saja bukan!” katanya cepat. “Mana mungkin bisa? Pak Snooks membawa pulang kunci mejanya di ikat pinggang itu, tahu kan?”

Bill mengangguk.

Semua murid di kelas Pak Snooks tahu ikat pinggang itu. Guru mereka punya kebiasaan mengetuk kepala murid cukup keras dengan ujung sabuk kalau sedang kesal.

“Lagipula,” lanjut Harry, “aku sudah cukup kena masalah hari ini. Aku enggak mau cari gara-gara lagi.”

“Jadi kamu kembali buat apa?” tanya Tony cepat.

“Aku mau mengambil perangko Argentina baruku.” Harry menghela napas sedih. “Aku lupa mengambilnya.”

“Perangko?” ulang Tony.

“Iya. Aku menyelipkannya di dalam Alkitabku supaya aman.” Harry menggaruk kepala malu-malu. “Pagi tadi aku memasukkannya ke laci meja… terus lupa lagi gara-gara Pak Snooks terus ngomel.”

Tony dan Bill saling melirik cepat.

“Perangko Argentina itu mahal sekali,” lanjut Harry serius. “Tapi Hoppy tetap enggak mengizinkanku mengambilnya malam ini.”

“Kalian juga tadi ke sekolah malam-malam?” tanya Harry heran.

Tony makin bingung.

Sejak tadi ia mendengarkan semua ucapan Harry dengan perasaan campur aduk. Kalau memang anak ini pencuri, pikir Tony, berarti ia juga pembohong dan aktor terbaik di dunia.

Tapi semakin lama mendengar Harry bicara, semakin sulit rasanya mencurigainya.

Harry terlihat terlalu santai, terlalu jujur, dan terlalu ramah untuk jadi penjahat licik.

“Ya,” jawab Bill singkat. “Aku juga perlu masuk ke ruang kelas.”

Harry langsung tertawa kecil.

“Pantas saja Hoppy kelihatan kesal. Berarti kamu orang ketiga malam ini!”

Bill langsung berhenti melangkah.

Rasanya seperti ada aliran listrik menyambar tubuhnya.

“Ketiga?” ulangnya cepat. “Siapa yang satu lagi?”

“Oh, aku enggak tahu apakah dia sempat bicara sama Hoppy,” kata Harry santai. “Tapi aku melihatnya waktu aku keluar dari sekolah.”

“Siapa?” tanya Bill tajam.

Harry mengerutkan dahi sambil berpikir keras.

“Nah, itu dia masalahnya.” Ia tampak kesal pada dirinya sendiri. “Aku lupa namanya lagi.”

Tony sampai mengepalkan tangan karena gemas.

“Dia anak kelas kita?” tanya Bill cepat.

“Iya… iya…” Harry memejamkan mata sebentar. “Namanya sudah di ujung lidahku.” Ia menghela napas frustrasi. “Aku benci kalau begini. Biasanya nanti malah baru ingat pas mau tidur.”

Bill mulai kehilangan kesabaran.

Sementara Harry masih sibuk mencoba mengingat, Bill tiba-tiba meraih kerah bajunya dengan keras.

Harry langsung terkejut.

Bill menatapnya tajam, dan ketika bicara, suaranya terdengar rendah dan penuh tekanan.

“Lupakan namanya!” desis Bill kesal. “Coba bilang saja seperti apa orangnya!”

Harry menatap Bill dengan kaget.

“Eh… ada apa sebenarnya?”

“Seperti apa rupa anak itu?” ulang Bill tajam.

Harry berpikir sebentar.

“Matanya aneh,” katanya perlahan. “Kayak mata palsu… atau setidaknya kelihatannya begitu.”

“Fratton,” kata Bill cepat sambil langsung melepaskan kerah Harry.

Harry mengusap bajunya yang kusut.

“Nah, itu dia namanya!” katanya lega. “Fratton! Aku sebenarnya kenal dia baik-baik saja.” Ia menatap Bill bingung. “Tapi kenapa kamu jadi segugup itu?”

“Kamu sempat bicara dengannya?”

“Dengan Fratton? Yang tadi di halaman sekolah?”

“Iya.”

Harry menggeleng.

“Enggak. Aku bahkan enggak yakin dia melihatku. Aku cuma melihat sekilas.”

“Kamu yakin dia mau masuk ke sekolah?”

Harry tampak heran dengan pertanyaan itu.

“Ya jelaslah. Memangnya dia mau ke mana lagi?”

“Aku enggak tahu,” kata Bill cepat. “Yang lihat dia kan kamu, bukan aku.”

“Ya karena dia kelihatan sedang berusaha menghindari Hoppy,” jawab Harry. “Dia menuju pintu masuk murid laki-laki.”

“Dia berhasil masuk?”

“Mungkin.” Harry mengangkat bahu. “Aku enggak tahu. Aku langsung pergi. Aku enggak mau Hoppy malah melaporkanku besok pagi.”

Setelah itu mereka berjalan beberapa saat tanpa bicara.

Kini justru Harry mulai penasaran.

Sebenarnya dari tadi ia sudah merasa Bill dan Tony terlalu tegang hanya gara-gara mendengar nama Fratton.

“Ada apa sih sebenarnya?” tanyanya akhirnya. “Kenapa kalian begitu tertarik sama Fratton?”

Bill melirik Tony sebentar sebelum menjawab.

“Ini ada hubungannya dengan pencurian di kelas,” katanya pelan. “Kamu sudah dengar soal itu, kan?”

“Jangan-jangan kalian curiga Fratton pelakunya?” tanya Harry.

“Ya… bisa saja,” jawab Bill hati-hati.

Harry langsung mengerutkan dahi.

“Menurutku bukan dia.”

“Kenapa?” tanya Tony cepat.

“Buat apa dia mencuri?” jawab Harry. “Dia paling kaya di kelas. Ayahnya punya beberapa restoran dekat stadion sepak bola.”

“Tapi kalau begitu,” kata Bill, “kenapa dia balik lagi ke sekolah malam-malam?”

Harry malah nyengir.

“Lho, kalian juga balik ke sekolah malam ini. Aku juga.”

Bill terdiam sesaat.

“Kalau begitu,” katanya perlahan, “bagaimana kamu tahu aku bukan pencurinya? Dan bagaimana aku tahu kamu bukan?”

Harry tampak berpikir sebentar, lalu menjawab santai.

“Karena aku tahu kalian bukan tipe orang seperti itu.”

“Kenapa bisa yakin?” tanya Bill.

Harry mengangkat bahu.

“Entahlah. Aku cuma tahu.” Ia tersenyum ramah. “Kamu terlalu baik buat jadi pencuri.”

Bill akhirnya tersenyum kecil lalu menepuk punggung Harry.

“Kamu juga anak baik, Harry.”

Ia lalu menoleh ke Tony.

“Jam berapa sekarang?”

Tony melihat arlojinya lalu menyebutkan waktunya.

“Waduh!” seru Harry spontan. “Aku harus pulang!”

“Ada apa?”

“Aku baru ingat!” Harry menepuk dahinya sendiri. “Aku janji bakal di rumah malam ini supaya Ayah dan Ibu bisa pergi nonton bioskop. Aku harus menjaga adik perempuanku.”

Ia langsung mundur beberapa langkah.

“Kalau mereka telat gara-gara aku, bisa kacau nanti. Dadah!”

Harry pun berlari pergi secepat mungkin.

Bill dan Tony memandang kepergiannya sambil tersenyum geli.

“Anak itu bahkan mungkin bisa lupa hari ulang tahunnya sendiri,” kata Bill.

Tony tertawa kecil.

“Nah,” lanjut Bill, “sekarang detektif hebat kita bagaimana? Masih curiga Harry?”

Tony menggeleng pelan.

“Terus terang… tidak.”

“Kenapa berubah pikiran?”

“Aku enggak tahu.” Tony berpikir sejenak. “Rasanya dia terlalu jujur. Terlalu baik.”

Bill mengangguk pelan.

“Ya. Aku juga mulai berpikir begitu.”

“Tapi tadi kamu sendiri curiga padanya,” kata Tony.

“Karena aku harus curiga pada semua orang,” jawab Bill. “Tapi sekarang aku yakin satu hal.”

“Apa?”

“Harry tidak mungkin menaruh pulpen itu di mejaku.”

“Yakin?”

“Aku melihat sendiri dia pergi dari kelas sore tadi. Dia enggak punya kesempatan.”

Tony menghela napas panjang.

“Kalau begitu kita sebenarnya cuma buang-buang waktu.”

“Belum tentu,” kata Bill cepat. “Ada dua alasan kenapa kita tetap harus bicara dengan Harry.”

“Apa saja?”

“Pertama, kita belum tahu apakah orang yang mengambil pulpenku sama dengan pencuri barang-barang lain.” Bill menendang kerikil kecil di jalan. “Pak Snooks langsung menganggap semua pencurian dilakukan orang yang sama.”

Tony mengangguk pelan.

“Masuk akal juga.”

“Dan alasan kedua,” lanjut Bill, “Harry satu-satunya petunjuk yang kita punya malam ini.”

Mereka kini sudah sampai di depan gerbang rumah pendeta tempat Tony tinggal.

“Sayangnya petunjuk itu belum banyak membantu,” kata Tony. “Yang kita tahu cuma Harry bukan pelakunya… dan Fratton sempat kembali ke sekolah.”

“Ya,” kata Bill muram. “Itu saja.”

Ia lalu menatap Tony.

“Sekarang jam berapa?”

Tony melihat arlojinya lagi.

“Kamu punya tepat dua belas jam sebelum sidang kecilmu besok pagi,” katanya.

“Terima kasih sudah mengingatkan,” gumam Bill.

Tony tampak ragu hendak masuk rumah. Ia ingin membantu, tetapi bahkan ia sendiri sudah kehabisan ide.

“Besok kabari aku apa yang terjadi, ya, Bill,” katanya pelan.

“Nanti aku kabari,” kata Bill lesu. “Selamat malam.”

“Selamat malam,” jawab Tony.

Tony berdiri beberapa saat di depan gerbang, memperhatikan punggung Bill menjauh sampai akhirnya hilang di tikungan jalan. Ada rasa iba yang aneh dalam hatinya. Ia ingin membantu, tetapi tak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya ia masuk ke rumah, naik ke kamar, lalu mencoba memikirkan ulang seluruh kasus itu satu per satu—berharap bisa menemukan sesuatu yang mungkin menyelamatkan temannya.

Sesampainya di rumah, Bill makan malam cepat lalu berkata bahwa ia lelah dan ingin langsung tidur.

Begitu Bill naik ke kamar, Ibu Holmes memandang suaminya dengan cemas.

“Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan anak itu,” katanya pelan.

“Oh ya?” sahut Ayah Holmes santai dari kursinya. “Memangnya kenapa?”

“Itu dia masalahnya. Aku tidak tahu.” Ia menghela napas. “Tapi rasanya dia sedang ada masalah.”

“Sudah ditanya?”

“Sudah. Tapi dia bilang tidak terjadi apa-apa.”

“Kalau begitu mungkin memang tidak ada apa-apa,” jawab Ayah Holmes sambil melipat korannya agar lebih nyaman membaca.

Ibu Holmes menggeleng pelan.

“Tidak. Aku yakin ada sesuatu. Dan aku harap ini bukan masalah serius.”

Ayah Holmes tersenyum kecil.

“Kalau memang serius, nanti juga kita tahu sendiri. Kalau tidak, berarti kamu cuma terlalu khawatir.”

Ibu Holmes mendesah. Dalam hati ia merasa para ayah memang sering terlalu tenang menghadapi hal-hal seperti ini.

Sementara itu Bill sudah berbaring di kamar.

Tangannya diselipkan di bawah kepala, matanya menatap langit-langit kamar tanpa berkedip.

Ia terus memikirkan soal pulpen Pak Snooks.

Siapa yang mengambilnya?

Kenapa pulpen itu bisa muncul di mejanya?

Dan bagaimana caranya ia membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah sebelum pukul sembilan pagi?

Sekitar satu jam kemudian, pintu kamarnya terbuka pelan.

Bill buru-buru memejamkan mata dan pura-pura tidur.

Ibunya mengintip dari celah pintu, memperhatikan sebentar, lalu tersenyum lega dan menutup pintu lagi dengan hati-hati.

Sunyi kembali memenuhi kamar.

Bill membuka mata lagi.

Perasaannya buruk sekali.

Ia membayangkan beginilah rasanya orang yang sedang menunggu hukuman besar.

Dari kejauhan terdengar lonceng gereja berdentang sebelas kali.

Sebelas malam, pikir Bill.

Berarti tinggal sepuluh jam lagi.

Ia membayangkan Pak Snooks dan Kepala Sekolah tidur nyaman di rumah mereka, sama sekali tidak memikirkan betapa menakutkannya pukul sembilan pagi bagi dirinya.

Semakin lama matanya semakin berat.

Pikirannya masih sibuk berputar ketika tiba-tiba sesuatu muncul di kepalanya—sebuah bayangan kecil, seperti potongan teka-teki yang tiba-tiba pas di tempatnya.

Bill langsung duduk tegak.

Matanya membesar.

Jantungnya berdebar.

Ia memeluk lutut sambil berpikir cepat.

Lalu perlahan senyum muncul di wajahnya.

“Ah…” gumamnya puas.

Akhirnya.

Ia seperti pemburu yang baru saja melihat jejak mangsanya.

Bill kembali merebahkan diri ke bantal—dan kali ini, hampir seketika tertidur.

Keesokan paginya, Bill tampak jauh lebih cerah.

Di samping piring sarapannya ada secarik catatan dari Tony—rupanya diselipkan di bawah pintu malam tadi, atau mungkin subuh-subuh sekali.

Bill membukanya cepat, membaca isinya, lalu nyengir lebar.

Tak lama kemudian ia sudah mengenakan topinya sambil bersiul kecil.

“Daaah, Bu! Aku berangkat!” serunya ke lantai atas.

“Lho, pagi sekali?” jawab ibunya. “Baru jam delapan lewat sedikit!”

“Udara pagi enak banget,” kata Bill ceria. “Aku juga sudah siap.”

Ibunya tersenyum lega mendengar nada suara Bill yang kembali seperti biasa.

“Baiklah. Hati-hati ya!”

Bill tiba di sekolah sekitar pukul delapan lewat dua puluh.

Ia berdiri di dekat gerbang sambil menunggu.

Tak lama kemudian Fratton muncul.

Anak itu tinggi dan tegap, rambutnya pendek gelap, dan salah satu matanya tampak aneh—mata buatan yang membuat orang mudah mengingat wajahnya.

Bill langsung menghampiri dengan langkah santai, tangan di saku.

Mereka bertemu agak jauh dari gerbang sekolah.

“Aku memang sedang mencari kamu, Fratton,” kata Bill.

Fratton berhenti.

“Mau apa?”

“Soal pulpen Pak Snooks.”

Wajah Fratton tetap datar.

“Pulpen Pak Snooks?” katanya dingin. “Aku enggak tahu kamu ngomong apa.”

Ia hendak berjalan lagi, tetapi Bill menghalangi jalannya.

“Oh, kamu tahu,” kata Bill tenang. “Kamu mengambil pulpen itu dari meja Pak Snooks kemarin sore, lalu memasukkannya ke mejaku lewat celah depan.”

Fratton tersenyum kecil.

“Pulpen itu kan sekarang enggak ada di sana,” katanya licik. “Jangan-jangan malah kamu sendiri yang mengambilnya lalu cari kambing hitam.”

“Jadi memang benar kamu balik ke sekolah tadi malam,” kata Bill cepat.

Fratton tidak menjawab.

“Sebenarnya kamu telat,” lanjut Bill. “Pak Snooks sudah menemukan pulpennya dan menyimpannya di saku.”

“Wah,” kata Fratton sambil menyeringai, “berarti dia juga tahu siapa pencurinya?”

“Belum,” jawab Bill. “Tapi sebentar lagi dia akan tahu.”

“Oh ya?”

“Iya,” kata Bill mantap. “Karena kamu sendiri yang akan bilang padanya.”

Fratton tertawa pendek.

“Aku?”

“Kamu juga akan mengaku soal uang Greville, dompet Colevil, pensil Hardsby, dan pisau Haine.”

Fratton mendecak pelan.

“Wah, Holmes pintar juga,” katanya mengejek. “Apa yang bikin kamu yakin aku pelakunya? Dan kalaupun iya, kenapa aku harus ngaku? Kamu pikir aku gila?”

“Begini,” kata Bill tiba-tiba, wajahnya memerah karena marah. “Pak Snooks terus memindah-mindahkan tempat dudukmu di kelas. Dan anehnya, setiap kali kamu dipindahkan, selalu kebetulan duduk dekat anak yang kehilangan barang.”

Fratton menyipitkan mata.

Bill melanjutkan dengan suara keras.

“Jadi sekarang kamu akan mengaku sendiri pada Pak Snooks. Kalau tidak…” Bill mengepalkan tinjunya. “Aku bakal menghajarmu sampai orang-orang enggak mengenali wajahmu lagi.”

“Oh, begitu rupanya,” kata Fratton dingin. “Jadi Pak Snooks sudah mencurigaimu, lalu kamu mau melempar kesalahan ke aku supaya selamat?”

“Bukan begitu.”

“Menurutku begitu.” Fratton melangkah maju. “Dan aku enggak akan jadi kambing hitammu. Sekarang minggir.”

Tapi Bill sudah keburu marah.

Tanpa pikir panjang ia langsung menerjang Fratton.

Di samping jalan ada gang sempit di antara dua rumah. Fratton terdorong masuk ke sana, lalu dalam sekejap keduanya sudah bergumul hebat.

Bill memang lebih kecil tubuhnya, tetapi ia menyerang dengan cepat dan ganas.

Fratton sampai terhuyung-huyung menghadapi pukulan bertubi-tubi itu.

Gang itu sepi. Tak ada orang yang melihat.

Tiba-tiba terdengar suara peluit dari halaman sekolah.

Tanda masuk.

Fratton kini bersandar di dinding sambil memegangi wajahnya dan mengerang pelan.

Bill sendiri terengah-engah kelelahan.

“Nah,” katanya sambil menarik napas, “mungkin sekarang kamu mau berpikir ulang… dan melakukan hal yang benar.”

Tanpa menunggu jawaban, Bill langsung berlari menuju sekolah.

Begitu masuk kelas, Pak Snooks langsung menatapnya tajam.

“Saya baru saja bertemu Kepala Sekolah,” katanya dingin. “Dan sekarang giliranmu menemui beliau.”

“Boleh saya cuci muka dulu, Pak?” tanya Bill.

“Tidak!” bentak Pak Snooks. “Langsung pergi sekarang juga!”

Ketika Bill masuk ke ruang kepala sekolah, pria itu sedang berdiri di depan perapian.

Bill langsung merasa tidak enak.

Kalau Kepala Sekolah berdiri seperti itu, biasanya artinya beliau sedang benar-benar serius.

Bill berdiri tegak di hadapannya.

Kepala Sekolah menatap wajah Bill yang lecet dan sedikit berdarah, tetapi tidak berkomentar apa-apa soal itu.

Sebaliknya, ia langsung mulai berbicara dengan nada resmi dan dingin—nada yang membuat Bill tahu bahwa ini bukan lagi obrolan biasa.

“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini?” tanya Kepala Sekolah.

“Ya, Pak,” jawab Bill pelan.

“Sudah jelas bahwa kamu mencoba mencuri pulpen milik Pak Snooks,” kata Kepala Sekolah tegas. “Jadi soal itu tidak perlu diperdebatkan lagi.”

Bill membuka mulut hendak membantah, tetapi Kepala Sekolah terus berbicara.

“Dan sekarang ada alasan kuat untuk menduga bahwa kamu juga melakukan pencurian-pencurian lainnya. Setelah berhasil mengambil barang kecil, kamu menjadi lebih berani. Begitu, bukan?”

“Bukan, Pak,” jawab Bill cepat.

Kepala Sekolah menatapnya tajam.

“Saya masih memberi kesempatan padamu.” Suaranya dingin sekali. “Kalau kamu mengaku sekarang, setidaknya kecurigaan terhadap murid lain bisa dihentikan. Jangan sampai anak-anak yang tidak bersalah ikut dicurigai gara-gara perbuatanmu.”

“Tapi saya memang tidak mengambil apa-apa, Pak,” kata Bill keras kepala. “Bukan pulpen itu, dan bukan barang lainnya.”

Wajah Kepala Sekolah makin suram.

“Baiklah,” katanya pendek. “Saya sudah memberimu kesempatan.”

Ia berjalan menuju lemari di sudut ruangan lalu mengambil tongkat hukuman.

Bill menatap tongkat itu diam-diam.

Baru saja ia berpikir bahwa mungkin ia memang harus menghajar Fratton lebih keras tadi pagi—

BRAK!

Tiba-tiba pintu terbuka keras tanpa diketuk.

Pak Snooks masuk tergesa-gesa sambil menyeret Fratton di belakangnya.

“Maaf mengganggu, Pak!” kata Pak Snooks cepat.

Kepala Sekolah menoleh tajam, jelas tidak senang.

“Ada apa lagi, Tuan Snooks?”

“Anak ini,” kata Pak Snooks sambil menekan bahu Fratton kuat-kuat, “baru saja mengaku bahwa dialah yang mengambil pulpen saya… dan juga barang-barang lain yang hilang.”

Ruangan langsung sunyi.

Ekspresi semua orang berubah.

Pak Snooks tampak marah sekaligus lega karena berhasil menghentikan hukuman terhadap murid yang ternyata tidak bersalah.

Bill berdiri terpaku dengan wajah penuh kemenangan dan kelegaan. Ia mengembuskan napas panjang pelan-pelan.

Fratton sendiri berdiri cemberut.

Bibirnya pecah akibat perkelahian tadi pagi, dan hidungnya bengkak sampai hampir menutupi salah satu matanya.

Sementara itu Kepala Sekolah masih berdiri memegang tongkat.

Beberapa detik sebelumnya beliau begitu yakin Bill bersalah.

Sekarang semuanya berubah total.

Akhirnya, setelah hening cukup lama, Kepala Sekolah mulai bicara.

“Ya ampun,” kata Kepala Sekolah sambil menatap Fratton. “Apa yang terjadi dengan wajahmu, Nak?”

“Saya berkelahi, Pak,” jawab Fratton cemberut.

“Hm.”

Kepala Sekolah memperhatikan anak itu beberapa detik. Wajahnya penuh memar, bibirnya pecah, dan hidungnya masih bengkak.

“Jadi, biar jelas,” katanya perlahan, “kamu mengaku mengambil pulpen itu… dan barang-barang lainnya juga?”

“Saya sebenarnya enggak ingin mengaku, Pak,” jawab Fratton jujur.

Pak Snooks mendengus kesal.

“Jangan muter-muter,” bentak Kepala Sekolah. “Kamu mencurinya atau tidak?”

Fratton menunduk sebentar.

“Iya, Pak,” katanya akhirnya. “Saya yang mengambil semuanya.”

“Kalau begitu urusannya sudah jelas,” kata Kepala Sekolah tegas.

Namun dari wajahnya terlihat jelas bahwa urusan itu belum selesai sama sekali—setidaknya untuk Fratton.

Beliau lalu menoleh pada Bill.

“Holmes,” katanya, “saya menyesal kamu sempat dituduh secara tidak adil.”

Bill hanya mengangguk.

“Nanti saya akan bicara lagi denganmu. Sekarang saya harus menangani Fratton dulu.”

Pak Snooks dan Bill keluar bersama dari ruang kepala sekolah.

Begitu sampai di koridor, Pak Snooks memandang wajah Bill sambil mengerutkan dahi.

“Demi Tuhan, Holmes,” katanya, “cepat pergi cuci mukamu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajahmu bisa jadi seperti itu.”

Bill buru-buru menahan senyum.

“Baik, Pak,” jawabnya cepat.

Lalu ia langsung berlari menuju ruang ganti dengan langkah ringan.

Saat jam sekolah selesai siang itu, Tony sudah menunggu di luar gerbang dengan wajah penuh penasaran.

Begitu melihat Bill keluar, ia langsung menghampiri.

“Nah?!” katanya cepat. “Apa yang terjadi?”

Bill menyeringai lebar, lalu merangkul bahu Tony.

“Ayo jalan,” katanya santai. “Ceritanya panjang.”

“Mereka sudah menemukan pencurinya,” kata Bill sambil terus nyengir.

“Serius?” Tony mengembuskan napas lega panjang. “Syukurlah! Jadi… suratku membantu?”

Bill diam-diam mengeluarkan secarik kertas dari sakunya lalu menyerahkannya pada Tony.

“Aku rasa kamu bakal butuh ini lagi,” katanya.

Tony langsung mengenali kertas itu.

“Aku yang mengantarkannya jam dua pagi tadi,” katanya bangga, seolah-olah ia punya andil besar dalam memecahkan kasus.

Ia membuka lipatan kertas itu… lalu wajahnya langsung merah padam.

Bill tidak bisa menahan tawa.

Isi catatan itu berbunyi:

Kepada Jane —
Aku akan menemuimu jam enam hari Jumat. Sebaiknya jangan jalan ke sini supaya tidak ketahuan. Kalau kamu terlambat keluar, aku akan menunggu.
Salam,
Tony.

Tony buru-buru melipat kertas itu lagi.

“Sudahlah!” katanya malu.

Bill tertawa makin keras.

“Siapa Jane?”

Tony berdeham.

“Dia… gadis yang baik,” katanya kikuk. “Aku kenal dia beberapa minggu lalu.”

“Lalu surat yang sebenarnya buat aku mana?” tanya Bill.

Tony memukul dahinya sendiri.

“Masih di kotak surat,” gumamnya sengsara.

Bill terkekeh lagi.

“Memangnya isi surat buatku apa?”

“Penjelasan lengkap kenapa Carfax pasti pencurinya,” jawab Tony.

Bill langsung menyeringai lebar.

“Itu hebat sekali, Tony.”

“Jangan mulai lagi.”

“Sekarang Jane juga tahu siapa pencurinya!”

“Oh, diamlah,” gerutu Tony. “Aku sudah cukup malu.”

Mereka berjalan beberapa langkah sebelum Tony kembali serius.

“Tapi aku memang benar-benar yakin waktu itu,” katanya. “Semakin kupikirkan pembicaraan kita dengan Carfax semalam, semakin jelas kalau dia bohong.”

“Bohong soal Fratton?” tanya Bill heran.

“Iya.” Tony mengangguk mantap. “Fratton sama sekali enggak datang ke sekolah malam itu.”

“Jadi begitu?” kata Bill sambil menahan tawa melihat Tony begitu bersemangat.

“Ya, tentu saja!” jawab Tony cepat. “Kalau Fratton benar-benar datang ke sekolah malam itu, Hoppy pasti bilang pada kita. Dia kan sudah menerima sepuluh pence dariku.” Tony mendesah kesal. “Dan dia memang memberi tahu kita soal Carfax. Jadi makin kupikirkan, makin jelas kalau Carfax cuma berbohong supaya perhatian kita teralihkan.”

Tony menggeleng-geleng.

“Memang gampang sekali tertipu anak yang kelihatannya baik dan ramah. Aku benar-benar tertipu olehnya.” Ia lalu mengerang pelan. “Sayang sekali suratku malah masuk ke amplop yang salah.”

Bill tertawa.

“Tapi akhirnya pencurinya ketahuan juga,” katanya.

“Oh ya? Bagus.” Tony mengangguk cepat. “Jadi akhirnya Carfax mengaku?”

“Bukan,” kata Bill santai. “Fratton.”

Tony langsung berhenti melangkah.

“Fratton?!”

Bill tertawa melihat wajah temannya.

“Iya. Dia sendiri yang mengaku di ruang Kepala Sekolah pagi tadi.”

“Lho… kok bisa?”

Bill menunjuk mata lebamnya sendiri.

“Aku yang membuatnya mengaku.”

Tony menatap mata Bill lalu nyengir.

“Sekarang aku mengerti.” Ia tertawa kecil. “Memang sih, matamu kelihatan parah.”

“Terima kasih.”

“Tapi serius,” lanjut Tony penasaran, “apa yang membuatmu yakin Fratton pelakunya?”

Bill memasukkan tangan ke saku sambil berjalan santai.

“Tadi malam aku melakukan hal yang sama seperti kamu—berbaring di kamar sambil memikirkan semuanya berjam-jam.”

“Dan?”

“Awalnya aku juga buntu. Sampai tiba-tiba aku ingat dua hal.”

Tony langsung mendekat penuh perhatian.

“Pertama,” kata Bill, “Fratton sering dipindah-pindah tempat duduk oleh Pak Snooks karena suka bikin masalah.”

Tony mengangguk.

“Nah, anehnya… setiap anak yang pernah duduk dekat Fratton selalu kehilangan barang.”

Tony bersiul pelan.

“Lumayan mencurigakan.”

“Tapi itu belum cukup,” kata Bill. “Kasus pentingnya tetap soal pulpen.”

“Nah, itu dia. Gimana kamu tahu?”

“Karena Pak Snooks selalu memakai pulpen itu untuk mencatat kehadiran sebelum pelajaran dimulai.” Bill menendang kerikil kecil di jalan. “Dan biasanya pulpen itu dibiarkan di meja sampai sore.”

Tony mulai mengerti.

“Jadi…”

“Pulpen itu enggak mungkin diambil tepat di depan Pak Snooks,” lanjut Bill. “Dan juga enggak mungkin dimasukkan ke mejaku saat aku duduk di sana.”

“Benar.”

“Tiba-tiba aku ingat sesuatu.” Bill menatap Tony. “Kemarin aku sempat keluar kelas dua atau tiga menit buat mengambil buku esai yang tertinggal di ruang olahraga.”

Tony mengangkat alis.

“Itu kesempatan.”

“Persis.” Bill mengangguk. “Saat itu Pak Snooks juga sempat keluar kelas sebentar. Anak-anak yang duduk dekat mejanya mulai ribut sendiri. Fratton bisa dengan mudah mengambil pulpen itu tanpa diperhatikan siapa pun.”

“Lalu memasukkannya ke mejamu lewat celah depan.”

“Ya.” Bill tersenyum tipis. “Mejaku ada di barisan depan. Tinggal dorong tangan ke belakang sedikit sambil pura-pura santai.”

Tony berpikir sejenak.

“Tapi kenapa dia enggak sekalian menyimpan pulpennya sendiri?”

“Karena dia ingin menyalahkan orang lain kalau kehilangan itu ketahuan.” Bill mengangkat bahu. “Dan meja saya mungkin tempat paling gampang.”

“Makanya dia balik lagi ke sekolah malam itu?”

“Ya. Dia pasti mau mengambil lagi pulpennya sebelum ditemukan.”

Tony masih tampak belum rela menyerah.

“Tapi Carfax juga mencurigakan…”

Bill tertawa kecil.

“Fratton sudah mengaku sendiri, Tony.”

Tony mendesah.

“Ya sih…”

“Dan soal pencurian barang lain,” lanjut Bill bangga, “aku sebenarnya cuma menggertak.”

“Kamu menuduh semuanya tanpa bukti pasti?”

“Tentu saja.” Bill nyengir lebar. “Taruhan besar… tapi berhasil.”

Ketika Bill sampai di rumah sore itu, ibunya langsung menatapnya kaget.

“Ya ampun, Bill!” serunya. “Apa yang terjadi dengan matamu?”

Bill tertawa kecil sambil melepas topinya.

“Ceritanya panjang, Bu,” katanya. “Nanti habis makan malam aku ceritakan semuanya.”

Sandekala



Abdul Rahman Saleh

Sandekala, dalam kepercayaan masyarakat Sunda, adalah waktu yang tidak pernah benar-benar sunyi. Ia datang di peralihan sore menuju malam—ketika cahaya meredup, ketika bayangan memanjang, dan ketika dunia yang kasat mata perlahan berbagi ruang dengan yang tak terlihat.

Sejak kecil, aku sering diingatkan: jangan keluar rumah saat magrib.
Dulu aku menganggapnya sekadar larangan orang tua.

Sampai peristiwa itu terjadi pada anakku sendiri.

Ani, anak keduaku, kini sudah berkeluarga. Ia tinggal tidak jauh dari rumahku, bersama suaminya—yang dipanggil anak-anaknya dengan sebutan Abi—dan tiga orang anak. Yang sulung, seorang anak perempuan berusia lima tahun yang biasa dipanggil Kakak. Dua lainnya adalah anak kembar laki-laki yang belum genap dua tahun: Abang dan Ade.

Kejadian itu berlangsung pada suatu sore yang tampak biasa.

Menjelang pukul setengah enam, Ani kehabisan obat nyamuk. Nyamuk memang sedang banyak-banyaknya. Ia memutuskan pergi ke warung yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari rumah. Ia membawa Abang, sementara Kakak dan Ade ditinggal di rumah.

Langit saat itu sudah mulai temaram.

Ani bilang, sebenarnya ia ragu. Tapi ia pikir, waktu magrib masih sedikit lagi.

Sepulang dari warung, ia setengah berlari. Ia tidak enak meninggalkan dua anaknya sendirian. Tapi tepat ketika hendak membuka pagar, tetangganya, Tante Lutfi, menyapa.

“Dari mana, Bun?”

“Dari warung, Tante,” jawab Ani, sambil tersenyum tipis.

Tante Lutfi, seperti biasa, ramah dan suka mengobrol. Ani serba salah. Masuk begitu saja terasa tidak sopan. Tapi tetap berdiri di luar… hatinya mulai tidak tenang.

Waktu seperti menahan napas.

Dan saat itulah Abang tiba-tiba menangis.

Bukan sekadar rewel. Tangisnya keras. Melengking. Seperti ketakutan.

Ani langsung pamit dan masuk ke rumah. Tapi tangisan itu tidak berhenti. Ia mencoba menyusui—ditolak. Digendong—malah meronta. Dibujuk—tidak mempan.

Tangisan itu… tidak biasa.

Ani baru sadar—ia membawa anaknya keluar menjelang magrib.

Dengan panik, ia mulai membaca surat-surat pendek. Lalu ayat kursi, terbata-bata. Nafasnya tidak teratur. Tangannya dingin.

Setelah beberapa saat, Abang akhirnya tertidur.

Rumah menjadi sunyi.

Terlalu sunyi.

***

Malamnya, sekitar pukul sepuluh, suami Ani pulang.

Baru saja ia meletakkan tas, tangisan itu kembali pecah.

Lebih keras.

Lebih tajam.

“Kenapa, Bun?” tanya suaminya.

Ani menjelaskan kejadian sore tadi. Suaminya hanya menggeleng pelan.

“Bunda tahu, kan… jangan keluar waktu magrib.”

Ani tidak menjawab.

Ia memperhatikan anaknya.

Dan saat itulah sesuatu terasa janggal.

Tangisan Abang keras… tapi tidak ada air mata. Wajahnya pucat kebiruan. Matanya seperti menatap sesuatu yang tidak terlihat.

Bulu kuduk Ani berdiri.

“Aku telepon Bu Teteh,” katanya pelan.

***

Bu Teteh adalah orang yang biasa membantu jika ada gangguan yang tidak kasat mata. Kebetulan ia juga sering membantu mengurus anak-anak Ani.

Tapi malam itu, ia sedang tidak di rumah.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Bu Teteh datang.

Dan sejak pertama kali melihatnya, Ani tahu—ada yang berbeda.

Wajahnya… seperti bukan wajah yang sama. Sorot matanya tajam. Suaranya berat, lebih dalam dari biasanya.

“Berdiri di situ. Jangan bergerak.”

Ani membeku di dekat pintu.

Di luar, beberapa tetangga mulai berkumpul. Tangisan Abang terdengar hingga ke jalan.

Bu Teteh mendekat. Tapi bukan ke anak itu.

Melainkan… ke Ani.

“Keluar.”

Suasana mendadak dingin.

“Aku tahu kamu ada di situ.”

Ani ingin bergerak. Tapi tubuhnya seperti ditahan.

Lalu, tanpa ia sadari, bibirnya bergerak.

Suara yang keluar… bukan suaranya.

“Aku hanya ingin bermain…”

Ani merasakan tengkuknya dingin. Napasnya berat.

“Keluar dari tubuhnya,” suara Bu Teteh tegas. “Itu bukan tempatmu.”

“Biarkan aku… sebentar saja…”

“Tidak.”

Hening beberapa detik.

Lalu tubuh Ani bergetar.

“Aku keluar… tapi jangan sakiti aku…”

Dan seketika itu juga, Ani limbung.

Udara terasa kembali normal.

Tangisan Abang berhenti.

***

Aku mendengar semua itu langsung dari Ani keesokan harinya.

Ia bercerita dengan wajah pucat. Tangannya masih gemetar saat mengingatnya.

Bu Awah, tetangganya, sempat mengatakan sesuatu yang membuatku makin sulit tidur malam itu.

“Di rumah kosong sebelah itu… ada tiga,” katanya pelan.
“Nenek-nenek… yang kecil… sama yang besar, hitam…”

Aku tidak tahu mana yang benar.

Tapi satu hal yang pasti—Ani sempat merasa telinganya berdenging saat berdiri di luar menjelang magrib itu.

Sejak hari itu, Bu Teteh selalu memastikan Ani sudah berada di dalam rumah sebelum azan magrib selesai.

Tidak pernah sekalipun ia membahas kejadian itu lagi.

Seolah-olah…

Tidak semua hal memang perlu dijelaskan.

***

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi menganggap remeh Sandekala.

Karena ternyata, larangan itu bukan sekadar mitos.

Melainkan… peringatan.

Bahwa ada waktu-waktu tertentu di mana dunia ini bukan hanya milik kita.

Gelombang Kejahatan

Fielden Hughes - Disadur oleh:  Abdul Rahman Saleh “Masuk!” Kepala sekolah menjawab ketukan kecil di pintu ruang kerjanya. Pintu terbuka...