Diceritakan kembali oleh Abdul Rahman Saleh
Dahulu kala, hiduplah seorang penambang garam bersama istrinya. Mereka tinggal cukup jauh dari laut, sekitar 20 kilometer. Setiap hari, si penambang pergi ke pantai untuk mengambil garam.
Saat masih bujang, pekerjaannya terasa ringan. Garam
yang dijual selalu cukup untuk makan, bahkan sering ada sisa untuk ditabung.
Suatu hari, ia ingin menikah. Setelah menemukan gadis yang cocok, menikahlah
ia.
Istrinya cantik, ramah, dan lembut. Tetapi sayangnya,
ia agak ceroboh dan lebih suka bersenang-senang.
Setelah menikah, si penambang tetap bekerja seperti
biasa. Ia pergi ke pantai mengambil garam, lalu membawa pulang hasilnya. Garam
itu diserahkan kepada istrinya untuk dijual.
“Aku percaya padamu,” kata istrinya sambil tersenyum.
“Pergilah cari garam sebanyak-banyaknya. Aku akan menjualnya dengan baik.”
Mendengar itu, si suami sangat senang. Setiap hari ia
bekerja keras di bawah terik matahari. Tubuhnya lelah dan kulitnya menjadi
gelap karena panas matahari. Namun ia tetap semangat.
Sementara itu, istrinya malah asyik bernyanyi dan
bersantai di rumah. Ia lupa menjual garam. Garam itu justru dibagikan kepada
tetangga-tetangga yang datang membawa mangkuk kosong.
Awalnya hanya satu atau dua tetangga yang datang.
Lama-lama hampir seluruh kampung ikut datang. Mereka pulang membawa garam
gratis.
“Ah, garam kan murah,” pikir sang istri.
Namun suatu hari, si suami mulai heran. Garam selalu
habis, tetapi tidak ada uang hasil penjualan.
Ketika pulang kerja, ia melihat seorang tetangga
keluar dari rumah sambil menyembunyikan sesuatu di balik bajunya.
“Selamat sore, Bu. Apa yang Ibu bawa?” tanya si suami.
“Sore, Pak. Saya hanya meminjam ragi roti dari
istrimu,” jawab tetangga itu.
Si suami curiga. Ia membuka kain penutup mangkuk itu.
Ternyata isinya garam.
Ia pun masuk ke rumah dan berkata kepada istrinya,
“Besok ikutlah denganku ke pantai. Kau bisa melihat pemandangan indah,
mendengar burung bernyanyi, dan menikmati udara segar.”
“Wah, tentu menyenangkan!” kata istrinya gembira.
Keesokan pagi, mereka berangkat bersama. Sang istri
tampak bersemangat.
Setelah seharian bekerja, keranjang mereka penuh
garam. Saat pulang, masing-masing harus membawa keranjang sendiri.
Baru berjalan sebentar, sang istri sudah mengeluh.
“Pak, berat sekali... mari kita istirahat.”
“Cepatlah,” kata suaminya. “Jalan masih jauh.”
Istrinya terus berjalan sambil terhuyung-huyung.
Akhirnya ia jatuh tersungkur karena kelelahan.
Suaminya menghampiri lalu berkata lembut, “Sekarang
kau tahu betapa berat pekerjaanku setiap hari?”
Sang istri menunduk malu.
“Maafkan aku, Pak,” katanya. “Aku tidak akan meminta
garam lebih banyak lagi. Aku juga tidak akan membagikannya sembarangan.”
Mereka pun pulang perlahan-lahan. Kadang berjalan,
kadang berhenti untuk beristirahat. Mereka baru sampai di rumah saat tengah
malam.
Sejak hari itu, sang istri berubah. Ia rajin menjual
garam, menabung uang, dan membantu suaminya.
Lama-kelamaan mereka bisa membeli seekor kuda dan
sebuah kereta. Kini sang suami tidak perlu memikul garam lagi. Garam dibawa
dengan kereta.
Karena kerja keras dan hidup hemat, akhirnya mereka
menjadi kaya dan hidup bahagia.
Pesan Cerita:
Kita harus menghargai kerja keras orang lain dan tidak
boros memberi sesuatu yang bukan milik kita sendiri.
Diceritakan kembali dari "Foolish Bounty” Stories of the
Middle Age/Mand G Huisman. Oleh
Abdul Rahman Saleh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar